Poin Penting
Jakarta – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memengaruhi berbagai sektor, termasuk industri aset kripto.
Salah satu pemanfaatan yang semakin banyak dibicarakan adalah penggunaan AI untuk membantu memprediksi pergerakan harga aset digital.
Meskipun teknologi ini menawarkan berbagai potensi manfaat, para pelaku industri mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam prediksi harga tetap memiliki keterbatasan dan risiko yang perlu dipahami oleh investor.
Menurut Resna Raniadi, CEO Upbit Indonesia, AI dapat menjadi alat bantu yang berguna dalam menganalisis pasar kripto, namun tetap tidak dapat menggantikan pemahaman dasar terhadap pasar serta pengambilan keputusan investasi yang bijak.
“AI mampu mengolah data dalam jumlah besar dengan sangat cepat, sehingga dapat membantu investor melihat pola atau tren pasar yang mungkin sulit terdeteksi secara manual. Namun penting untuk diingat bahwa teknologi ini tetap memiliki keterbatasan dan tidak dapat menjamin prediksi harga yang akurat,” ujar Resna dikutip 15 Maret 2026.
Baca juga: Muhammadiyah Keluarkan Fatwa soal Kripto, Begini Tanggapan Aplikasi PINTU
Dalam beberapa tahun terakhir, AI semakin banyak digunakan untuk menganalisis berbagai indikator pasar. Cakupannya meliputi data historis harga, volume transaksi, sentimen media sosial, hingga perkembangan berita global yang dapat mempengaruhi pasar.
Dengan kemampuan memproses data secara real-time, AI berpotensi membantu investor memahami dinamika pasar dengan lebih cepat. Sejumlah platform telah mengembangkan model AI yang mampu memberikan analisis tren atau rekomendasi berbasis data.
Teknologi ini juga dapat mendorong investor untuk lebih memahami data serta berbagai faktor yang mempengaruhi pergerakan harga aset digital.
Meski demikian, Resna menekankan bahwa penggunaan AI dalam prediksi harga tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi.
Pasar kripto dikenal memiliki tingkat volatilitas yang tinggi, serta dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti kebijakan regulasi, kondisi ekonomi global, dan sentimen pasar yang berubah dengan cepat. Di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada hasil analisis otomatis tanpa memahami cara kerja teknologinya juga menjadi risiko tersendiri bagi investor.
“Investor tetap perlu melakukan riset secara mandiri, memahami profil risiko, serta tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan prediksi teknologi, termasuk AI,” tambah Resna.
Baca juga: Transaksi Aset Kripto Lesu, OJK Beberkan Penyebabnya
Upbit Indonesia mengingatkan bahwa teknologi seperti AI sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung dalam proses analisis, bukan sebagai penentu utama keputusan investasi.
Investor juga dianjurkan untuk menggunakan platform perdagangan yang telah terdaftar dan diawasi oleh regulator. Selain itu, penting untuk menerapkan prinsip investasi yang bertanggung jawab, seperti diversifikasi portofolio dan penetapan batas risiko.
Dengan semakin berkembangnya teknologi digital, edukasi mengenai pemanfaatan teknologi secara bijak menjadi semakin krusial bagi masyarakat. (*)
Poin Penting IHSG turun 3,05% pada penutupan perdagangan 13 Maret 2026 ke level 7.137,21, diikuti… Read More
Poin Penting Banyak orang Indonesia gagal menabung karena pola keuangan yang keliru: penghasilan naik, pengeluaran… Read More
Poin Penting IHSG melemah 5,91% pada periode 9-13 Maret 2026 ke level 7.137,21, sementara kapitalisasi… Read More
Poin Penting IHSG melemah 5,91% selama pekan 9–13 Maret 2026 dan ditutup di level 7.137,21.… Read More
Poin Penting LPS mulai membayar klaim simpanan nasabah BPR Koperindo sebesar Rp14,19 miliar pada tahap… Read More
Poin Penting YLKI menilai pembentukan Satgas Ramadan dan Idulfitri oleh Pertamina sebagai langkah positif untuk… Read More