Poin Penting
- Industri pindar telah menyalurkan pinjaman lebih dari Rp1.388 triliun kepada 169 juta borrower aktif.
- Sekitar 40 persen penerima merupakan UMKM yang baru pertama kali memperoleh akses pendanaan.
- AFTECH menegaskan komitmen memperkuat tata kelola, transparansi, dan perlindungan konsumen.
Jakarta – Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem pinjaman daring (pindar) yang sehat, inklusif, dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional.
AFTECH menilai peran industri pindar tidak hanya sebatas menyalurkan pinjaman, tetapi juga membuka akses pembiayaan bagi masyarakat yang belum terlayani oleh perbankan formal.
Sejak pertama kali beroperasi, industri pindar telah menyalurkan pembiayaan lebih dari Rp1.388 triliun kepada 169 juta borrower aktif. Sekitar 38-40 persen penerima merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang baru pertama kali memperoleh pendanaan, dengan tingkat pembayaran tepat waktu di atas 90 persen.
Baca juga: AFTECH dan Jalin Perkuat Kolaborasi Ketahanan Siber lewat Forum ‘Protection in Action’
Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganindunto, mengatakan pindar telah menjadi jembatan bagi masyarakat yang belum memiliki rekam jejak kredit di perbankan sehingga dapat memperoleh akses modal untuk mengembangkan usaha.
“Mereka yang meminjam untuk beli stok dagangan, bayar biaya sekolah anak, atau tambal modal saat arus kas seret dan kemudian melunasi pinjamannya tanpa masalah. Cerita mereka juga bagian dari realitas industri ini,” ujar Firle dalam keterangan resmi, dikutip Selasa, 9 Juni 2026.
Transparansi dan Tata Kelola jadi Prioritas
Firlie menegaskan AFTECH secara aktif memastikan seluruh penyelenggara pindar yang menjadi anggotanya menerapkan tata kelola yang ketat, transparan, serta memiliki mekanisme perlindungan konsumen yang terstandarisasi.
Selain itu, AFTECH juga mendorong seluruh anggotanya mempublikasikan data dampak platform, seperti tingkat pembayaran kembali (repayment rate), jumlah UMKM yang didanai, hingga laporan audit collection sebagai bentuk transparansi kepada publik.
“Kepercayaan adalah satu-satunya fondasi yang membuat industri ini bisa terus tumbuh dan relevan. AFTECH tidak hanya hadir sebagai asosiasi administratif. Kami adalah mitra aktif bagi setiap anggota dalam membangun kepercayaan itu, kepada pengguna, kepada regulator, kepada masyarakat luas,” ungkap Firlie.
Baca juga: Utang Pindar Warga RI Naik 26,11 Persen di April 2026, Tembus Rp102,07 Triliun
Ia melanjutkan, AFTECH ingin masyarakat melihat pindar sebagai industri yang lahir dari kebutuhan nyata dan terus berkembang melalui inovasi yang bertanggung jawab.
“Masih banyak yang harus kami perbaiki, tapi cerita tentang jutaan orang yang hidupnya berubah karena pindar, cerita itu juga harus didengar,” tegasnya.
Pindar jadi Pintu Masuk ke Ekosistem Keuangan Formal
Direktur Utama PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash), Nucky P. Djatmiko, mengatakan sebagian besar pengguna platformnya berasal dari masyarakat yang sebelumnya belum tersentuh layanan keuangan konvensional.
Menurutnya, pengalaman pertama yang positif menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Baca juga: Harapan AFTECH untuk Formasi Baru Anggota Dewan Komisioner OJK
Ia mencontohkan salah satu borrower yang awalnya meminjam untuk menambah stok dagangan kecil, kemudian mampu mengembangkan usahanya hingga memiliki beberapa karyawan dan akhirnya masuk ke ekosistem perbankan formal
“(Oleh karena itu), pindar bukan titik akhir perjalanan keuangan mereka, (melainkan) adalah titik masuknya. Dan itu yang membuat pekerjaan ini punya makna,” kata Nucky.
Dampak Pembiayaan Menjalar ke Ekonomi Lokal
Pandangan serupa disampaikan Direktur Utama PT Sahabat Mikro Fintek (Samir), Yonathan Gautama. Menurutnya, pemberian akses pembiayaan kepada masyarakat yang sebelumnya tidak dianggap layak oleh lembaga keuangan formal dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.
“Kami mencatat bahwa dampak pinjaman produktif tidak berhenti pada penerima langsung, tetapi menjalar ke rantai ekonomi di sekitarnya: tenaga kerja yang terserap, pemasok lokal yang ikut tumbuh, dan perputaran uang yang semakin aktif di tingkat komunitas,” sebut Yonathan. (*) Mohammad Adrianto Sukarso


