Acara Paparan Riset Industri Pindar & Buka, Rabu, 4 Maret 2026. (Foto: Dok. AFPI)
Poin Penting
Jakarta – Beberapa waktu lalu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengguyur bank-bank pelat merah dengan penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun. Tujuannya tidak lain untuk meningkatkan likuiditas perbankan.
Di tengah guyuran likuiditas tersebut, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) berharap bisa menyerap sebagian dana tersebut, dan menyalurkannya ke nasabah unbankable.
Kuseryansyah, Ketua Bidang Hubungan Masyarakat AFPI, menyebut, sejatinya, banyak pelaku pinjaman daring (pindar) yang sudah bekerja sama dengan perbankan. Bahkan, portofolio lender pindar mayoritas sudah diisi oleh perbankan.
“Berdasarkan publikasi OJK kontribusi perbankan dalam kapasitas sebagai lender di industri ini sudah mencapai 70 persen. Jadi, yang kita salurkan sekarang sebenarnya uang perbankan,” katanya di acara Paparan Riset Industri Pindar & Buka, Rabu, 4 Maret 2026.
Baca juga: Industri Pindar Mulai Pegang Peran Penting Perekonomian Indonesia, Ini Buktinya
Namun begitu, menurut pria yang akrab disapa Kus ini, mayoritas bank yang berkolaborasi dengan fintech lending itu merupakan bank digital. Ia mengaku, belum banyak pindar yang bekerja sama dengan bank-bank himbara yang notabene menerima dana SAL ini.
Ke depan, AFPI berkomitmen untuk menjalin hubungan dengan lebih banyak pelaku perbankan, khususnya bank-bank Himbara. Kus berharap, bank milik BUMN ini bersedia menyalurkan sebagian dari Rp200 triliun melalui skema channeling dengan fintech lending.
“Kami punya PR untuk meningkatkan sinergi perbankan. Sekarang sebenarnya (lender) 70 persen itu not bad, sudah sangat baik sebenarnya. Cuma, ada ruang untuk memperbesar itu kalau kita juga nanti bisa bekerja sama dengan bank-bank pemerintah,” tegasnya.
Baca juga: OJK: Ramadan Jadi Pendorong Pembiayaan Pindar
Mendukung pernyataan Kus, Hanif Gusman, Senior Analyst Katadata Insight Center, menjelaskan kalau bank-bank milik pemerintah bisa mendapat keuntungan jika mencoba opsi channeling melalui pelaku pindar.
“Menurut kami, pindar berpeluang sebagai saluran distribusi. Karena kita tahu pindar menggunakan innovative credit scoring, sehingga mampu menyalurkan kredit lebih fleksibel dibandingkan perbankan,” jelas Hanif.
Ia menambahkan, perbankan yang kesulitan mengakses nasabah karena hambatan geografis, bisa memanfaatkan bantuan pindar yang secara operasional, sudah terdigitalisasi. Hal ini dinilai akan membantu bank menjangkau konsumen dan meningkatkan penyerapan kredit. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Pangsa pasar oli Indonesia tumbuh rata-rata 2,5% per tahun, didorong oleh meningkatnya jumlah… Read More
Poin Penting Konflik AS-Iran memunculkan volatilitas, yang sebagian investor lihat sebagai momentum untuk membeli aset… Read More
Poin Penting SMF menyalurkan pembiayaan Rp20,88 triliun sepanjang 2025, naik 22,75%, dengan laba Rp565 miliar… Read More
Poin Penting Adira Finance catat pembiayaan baru Rp43,2 triliun, naik 18% di 2025. Laba bersih… Read More
Poin Penting Pertamina Lubricants memastikan stok oli domestik aman meski konflik AS-Israel vs Iran berpotensi… Read More
Poin Penting BRI Life meluncurkan MODI, asuransi digital end-to-end yang bisa diakses sepenuhnya secara daring.… Read More