Teknologi

Adopsi Agentic AI di ASEAN: Ini Dua Tantangan Terbesarnya

Jakarta – Teknologi artificial intelligence (AI), khususnya agentic AI, kini semakin lazim digunakan.

Agentic AI merupakan model kecerdasan buatan yang meniru pengambilan keputusan seperti manusia dan mampu menjalankan tugas secara mandiri.

Teknologi tersebut telah banyak membantu manusia di berbagai sektor, termasuk dalam dunia bisnis.

Meski potensinya besar, penerapan agentic AI masih menghadapi sejumlah kendala.

Direktur Regulasi dan Etika Indonesia Artificial Intelligence Society (IAIS), Henke Yunkins menyatakan, setidaknya ada dua tantangan utama dalam penerapan agentic AI, yaitu ketersediaan talenta dan proses integrasi sistem.

Baca juga: Menjadi Mitra Kerja Digital Perusahaan Modern, Begini Cara Terapkan Agentic AI

Henke menerangkan, penerapan agentic AI membutuhkan peran sumber daya manusia (SDM) yang memiliki keahlian tinggi, mulai dari tahap awal hingga pengoperasian dan integrasi lanjutan.

Selain itu, kehadiran agentic AI juga berpotensi menggeser peran manusia secara konvensional, misalnya seperti dalam layanan call center.

“Saat Anda menerapkan (agentic AI), Anda harus berpikir tentang bagaimana itu akan memengaruhi dua sisi user, yakni agen (pekerja) call center itu sendiri dan konsumen yang membuat panggilan telepon,” kata Henke pada acara virtual media roundtable IBM berjudul “Supercharging Asean’s Growth with Agentic AI” Selasa, 24 Juni 2025.

Perbedaan Regulasi Antarnegara Jadi Tantangan Tambahan

Selain dua tantangan utama tersebut, penerapan AI di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) juga menghadapi hambatan akibat keberagaman regulasi antarnegara.

“Untuk mematuhi perbedaan regulasi pada setiap negara saja itu cukup menantang. Dan untuk membangun agentic AI di awal itu terlihat mudah, tapi kita tak akan tahu sampai kita masuk lebih detail ke sistem,” jelasnya.

Baca juga: Studi IBM: Adopsi Teknologi AI di RI Terkendala Infrastruktur, Keamanan Data, dan Talenta

Fokus pada Konsumen dan Regulasi yang Seimbang

Henke menegaskan pentingnya menjadikan konsumen sebagai pusat dari pengembangan teknologi AI.

Menurutnya, jika pengembangan tidak berorientasi pada kebutuhan konsumen, hal itu justru bisa merugikan bisnis.

Di sisi lain, regulasi yang terlalu ketat juga dapat menghambat pemanfaatan AI di masyarakat.

“Kalau anda kehilangan konsumen, anda akan kehilangan bisnis anda. Dan juga cara pemerintah membuat regulasi soal ini, akan memengaruhi cara anda mengoperasikan teknologi ini di masyarakat,” tukasnya. (*) Steven Widjaja

Yulian Saputra

Recent Posts

BRI Salurkan KUR Rp178,08 Triliun Sepanjang 2025

Poin Penting BRI salurkan KUR Rp178,08 triliun pada 2025 kepada 3,8 juta debitur, dengan 64,49… Read More

9 mins ago

Mengeliminasi Fragmentasi Global dan Menimbang Posisi Indonesia

Oleh Ryan Kiryanto, Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia DALAM laporan Global… Read More

11 mins ago

HRTA Rilis Aplikasi HRTA Gold untuk Transaksi Emas dan Perhiasan, Ini Keunggulannya

Poin Penting HRTA meluncurkan aplikasi HRTA Gold sebagai platform jual beli emas dan perhiasan fisik… Read More

46 mins ago

Fungsi Intermediasi Solid, BNI Raup Laba Rp20 Triliun di 2025

Poin Penting Kredit tumbuh 15,9 persen yoy menjadi Rp899,53 triliun, DPK naik 29,2 persen menjadi… Read More

1 hour ago

Demutualisasi Bursa dan Krisis Akuntabilitas Hukum

Oleh Firman Tendry Masengi, Advokat/Direktur Eksekutif RECHT Institute DEMUTUALISASI bursa efek kerap dipromosikan sebagai keniscayaan… Read More

3 hours ago

Jahja Setiaatmadja Borong 67.000 Saham BBCA, Rogoh Kocek Segini

Poin Penting Jahja Setiaatmadja tambah saham BBCA sebanyak 67.000 lembar secara tidak langsung dengan harga… Read More

4 hours ago