Ilustrasi: Adira Finance bidik pertumbuhan pembiyaan baru tumbuh 20 persen di 2023/isitmewa
Jakarta–PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) telah memutuskan untuk membayarkan dividen tunai sebesar Rp505 miliar atau Rp505 per lembar saham yang merupakan 50 persen dari Laba Bersih Perusahaan untuk Tahun buku 2016.
“RUPST pada tahun ini kita telah bagikan deviden sebesar Rp505 miliar atau Rp505 per lembar saham yang merupakan 50 persen dari Laba Bersih,” jelas Direktur Utama Adira Finance, Hafid Hadeli di Jakarta, Rabu, 17 Mei 2017.
Pembayaran dividen ini akan dilakukan pada tanggal 16 Juni 2017. Di tengah kondisi perekonomian yang penuh tantangan. Adira Finance tetap berupaya untuk memberikan apresiasi atas dukungan pemegang saham dengan memberikan imbal hasil invastasi yang optimal.
Selanjutnya, RUPST memutuskan untuk menyisihkan Rp10,1 miliar atau 1 persen dari laba bersih dan menambah cadangan umum sesuai Undang-Undang Perseroan Terbatas.
Tercatat pada kuartal satu 2017, laba bersih Adira Finance naik menjadi sebesar Rp328 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp286 miliar. Pertumbuhan laba bersih terjadi terutamanya karena upaya Perusahaan dalam mendiversifikasi sumber pendanaan untuk memperoleh biaya pendanaan yang paling optimal sehingga beban bunga turun 13 persen menjadi Rp1,1 triliun.
Labih lanjut, RUPS juga menyetujui penunjukan Muliadi Rahardja dan Willy S. Dharma selaku Komisaris dan Hafid Hadeli selaku Direktur Utama Perusahaan yang baru. (*)
Editor: Paulus Yoga
Poin Penting GoPay kini bisa tarik tunai tanpa kartu di seluruh ATM BRI dan Bank… Read More
Poin Penting BRI Kanwil Jakarta II menambah kuota mudik gratis menjadi 2.750 pemudik dengan 55… Read More
Poin Penting BRI Life menghadirkan asuransi digital MODI-MOtraveling untuk melindungi pemudik Lebaran 2026 dari risiko… Read More
Poin Penting Adira Finance memberangkatkan 300 pemudik dari Jabodetabek menuju Solo dan Yogyakarta melalui program… Read More
Poin Penting Bank Indonesia membeli Surat Berharga Negara (SBN) Rp86,16 triliun hingga 16 Maret 2026,… Read More
Poin Penting BI menegaskan tidak membatasi transaksi valuta asing, tetapi memperketat kewajiban dokumen underlying untuk… Read More