Ekonomi dan Bisnis

Ada Sosok Taipan Kasus BLBI di Balik Tutupnya Waralaba Texas Chicken Indonesia, Siapakah Dia?

Jakarta – Waralaba restoran ayam goreng asal Amerika Serikat (AS), Texas Chicken mengumumkan segera menutup seluruh gerainya setelah hampir 40 tahun beroperasi di Tanah Air.

Penyebab utama dari tutupnya gerai Texas Chicken karena pendapatan perusahaan terus menurun sebagai efek dari pandemi Covid-19.

Jika ditelisik, jaringan waralaba satu ini memiliki sejarah panjang di Tanah Air. Masyarakat Indonesia pun sudah sangat familiar dengan citra rasa ayam goreng khas Texas Chicken.

Baca juga: SeaMoney PHK Sejumlah Pekerja di Indonesia, Ada Apa Dengan Sea Group?

Ya, Texas Chicken pertama kali berdiri pada tahun 1952 di San Antonio, Texas, Amerika Serikat. Sang pemilik, George W. Church awalnya memberi nama restoran tersebut Church Chicken yang berasal dari nama belakangnya.

Setelah populer di negara asalnya, pada tahun 1979, melakukan ekspansi internasional dengan mendirikan lokasi di Puerto Rico, Kanada, Meksiko hingga Indonesia dan mulai beroperasi dengan nama anyar Texas Chicken.

Di Indonesia, Texas Chicken berdiri di bawah manajemen PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI). CSMI selaku salah satu pemegang merek Texas Chicken sudah ada sejak tahun 1952, tetapi perusahaan ini didirikan pada tahun 1983.

Pada 4 Juli 1984, Texas Chicken membuka restoran pertamanya di Pasar Baru, Jakarta Pusat dengan nama Texas Fried Chicken. Lalu, pada 1993 berganti nama menjadi Texas Chicken.

Lambat laun, jaringan restoran ini semakin berkembang dan mulai membuka gerai-gerai anyar hingga ke Surabaya, Medan, Pekanbaru, Palembang, Pontianak, Banjarmasin, Bandung, Makasar, Manado, dan kota-kota lainnya.

Sosok di Balik Texas Chicken Indonesia

Berdasarkan informasi terakhir yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 7 Maret 2023, pemilik saham CSMI adalah Lisa Muchtar (56,15%) dan Husni Muchtar (21,3%). 

Nama Lisa Muchtar, mempunyai mayoritas saham dengan total 458.200.000 lembar saham atau 56,15%. Nilai sahamnya senilai Rp22.910.000.000.

Adapun Lisa Muchtar adalah anak dari Atang Latief atau Lao Chen Ho yang merupakan komisaris utama Bank Indonesia Raya (Bank Bira) pada masa itu.

Namun pada 2006, Atang kemudian tersangkut kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Di mana, dirinya sempat menerima kucuran dana segar sebesar Rp325 miliar. Namun baru dibayar Rp155 miliar, sehingga sisanya masih Rp170 miliar.

Baca juga: Satgas BLBI Sita The East Tower Milik Obligor Bank Asia Pacific, Segini Nilainya

Bahkan, kala itu Atang sempat bolak balik Singapura meski statusnya tersangka. Pada 12 Maret 2002, Atang kabur ke Singapura. Dirinya dikabarkan memiliki sebuah apartemen mewah senilai Rp16 miliar di Frazer Suites, River Valley Road. 

Empat tahun kemudian, pada 27 Januari 2006, Atang Latief mendadak kembali ke Tanah Air dan menyerahkan diri ke Mabes Polri. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Meluruskan Penegakan Hukum Tipikor di Sektor Perbankan yang Sering “Bengkok”

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More

2 hours ago

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

11 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

11 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

12 hours ago

Avrist General Insurance Resmikan Kantor Baru, Bidik Pertumbuhan Dua Digit 2026

Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More

13 hours ago

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More

13 hours ago