Sejumlah pegawai melintas di depan Gedung Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) di Jakarta. (Foto: Erman Subekti)
Jakarta – Kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) diyakini berpotensi mempercepat proses realisasi rencana bisnis perkebunan negara yang butuh dana besar. Danantara bisa mengoptimalkan nilai aset sehingga optimalisasi hilirisasi.
Hal itu diungkapkan Co-Founder PasaRDana, perusahaan penasehat investasiHans Kwee. Menurutnya, Danantara akan mendorong semua BUMN, termasuk PTPN Group agar lebih transparan, sehingga reputasi dan kepercayaan investor meningkat.
“Perusahaan Perkebunan milik negara semisal PTPN, akan sangat efektif bila bersinergi dengan Danantara untuk mengoptimalkan dan mengelola aset perusahaan,” jelasnya, dikutip, Minggu, 2 Maret 2025.
Hans Kwee menilai PTPN Group bisa mengandalkan peluang dari Danantara, terutama di aspek ekspansi bisnis dan mendorong kolaborasi BUMN lebih kuat dan mendapatkan partner strategis secara global. Sektor perkebunan menjadi satu sektor andalan untuk mencapai Indonesia Emas 2045.
Baca juga: Potensi Bolong-Bolong Fraud Pengelolaan Dana Publik (Danantara)
Tidak hanya menyerap banyak tenaga kerja, sektor ini juga mendorong pemerataan pendapatan dan menaikan kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, hilirisasi perkebunan untuk menaikan nilai tambah ekspor Indonesia menjadi langkah tepat.
Apalagi, PTPN Group telah melakukan efisiensi melalui transformasi perusahaan, seperti konsolidasi anak usaha dari 14 perusahaan menjadi tiga entitas bisnis, yaitu PTPN I (SupportingCo), PTPN IV (PalmCo) dan PT Sinergi Gula Nusantara (SugarCo).
“Langkah PTPN sejak beberapa tahun lalu tentu sudah sangat baik dan berpeluang mendorong perusahaan lebih profesional dan profit meningkat,” tambahnya.
Di luar itu, PTPN Group juga melakukan perbaikan keuangan melaluirestrukturisasi utang, efisiensi operasional dan biaya manajemen, peningkatan akuntabilitas dan fungsi pengendalian, serta transformasi EBITDA. Perusahaan pun berhasil melakukan turn around, dari rugi menjadi laba. Sejak tahun 2021 hingga kuartal III 2024, laba bersih konsolidasi telah mencapai Rp13,6 triliun.
Menurut Hans Kwee, aksi bisnis PTPN, sudah sejalan dengan tujuan pembentukan Danantara Indonesia, yaitu mendorong transformasi ekonomi dengan pendekatan profesional dan menerapkan good governance.
Baca juga: Mampukah Danantara Menepis “Kabut Gelap” Ekonomi RI
“PTPN Group dapat bersinergi dengan Danantara karena upaya melakukan efisiensi aset sudah berusaha dilakukan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Sekarang, tinggal bersinergi dalam merealisasikan rencana bisnis yang lebih besar,” tegasnya.
PTPN Group sendiri memiliki luas lahan hingga 1,18 juta hektare. PTPN Group menghasilkan banyak produk perkebunan, jika dilakukan proses hilirisasi akan memberikan nilai tambah lebih besar terhadap perekonomian nasional, seperti kelapa sawit, karet, teh, tebu, dan kopi.
“Perlu membuat pabrik yang canggih dengan investasi tinggi. Danantara bisa menjadi salah satu solusi untuk hal ini. PTPN perlu membuat rencana untuk hilirisasi produk perkebunan dan rencana investasi agar dapat disinergikan dengan Danantara, sehingga tujuan PTPN menjadi pemain utama dalam ketahanan pangan dan energi nasional dapat diakselerasi,” jelasnya. (*) Ari Astriawan
Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More
Poin Penting ALFI mendesak pemerintah melakukan harmonisasi regulasi KBLI 2025 karena dinilai memicu inefisiensi dan… Read More
Poin Penting NPL konstruksi BTN menurun ke bawah 10%, dari sebelumnya sekitar 26%, dengan target… Read More
Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,39% ke level 7.307,58 pada perdagangan 9 April 2026. Mayoritas… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya akui miskomunikasi, sebagian pengadaan motor listrik untuk SPPG ternyata sempat disetujui.… Read More
Poin Penting Livin’ by Mandiri hadirkan QR antarnegara di Korea Selatan, memungkinkan transaksi QRIS tanpa… Read More