Keuangan

AAUI Ungkap Penyebab Premi Asuransi Umum Hanya Tumbuh 4,8 Persen di 2025

Poin Penting

  • Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat premi asuransi umum 2025 hanya naik 4,8% menjadi Rp112,81 triliun, di bawah target 8%.
  • Perlambatan dipicu kinerja negatif beberapa lini (properti, kendaraan, marine), perusahaan tak lagi menjual asuransi kesehatan, dan minim proyek energi.
  • Implementasi POJK 20 dan lonjakan klaim asuransi aneka 16,9% turut menahan pertumbuhan premi.

Jakarta – Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengumumkan pendapatan premi di seluruh lini bisnis masih mengalami pertumbuhan sebesar 4,8 persen menjadi Rp112,81 miliar sepanjang 2025 dari tahun lalu yang senilai Rp107,66 miliar.

Meski demikian, Ketua Umum AAUI, Budi Hernawan, menjelaskan bahwa angka tersebut mengecualikan satu perusahaan yang masih dalam pengawasan khusus, sehingga pertumbuhannya masih di bawah prediksi yang disampaikan oleh AAUI sebesar 8 persen.

Namun, jika data satu perusahaan asuransi itu dimasukkan, maka pertumbuhan pendapatan premi asuransi berada dikisaran 7,4-7,5 persen tak jauh dari prediksi 8 persen.

“Tapi kalau kita tambahkan dengan ada perusahaan asuransi yang memang masih harus ada pengawasan khusus sehingga tidak di-publish, mungkin angkanya ini kisarannya akan ada di angka 7,4-7,5 persen jadi prediksinya sebetulnya tidak jauh seperti apa yang saya sampaikan tahun lalu 8 persen,” ujar Budi dalam konferensi pers AAUI di Jakarta, Jumat, 19 Februari 2026.

Baca juga: Pendapatan Premi Asuransi Umum Tumbuh 4,8 Persen Jadi Rp112,81 Miliar pada 2025

Kinerja Lini Bisnis Tertekan

Selain itu, penurunan pendapatan premi juga dipengaruhi oleh adanya perusahaan asuransi yang tak lagi menjamin asuransi kesehatan, padahal lini asuransi kesehatan di perusahaan asuransi tersebut pada tahun lalu membukukan angka kenaikan yang signifikan.

“Nah kalau kita lihat tadi ya terakhir sektor reasuransi ini jelas sekali memperlihat kinerja perusahaan asuransi ya di properti saja pertumbuhannya minus ya 0,2, kendaraan bermotor juga kontraksi, marine cargo di kondisi ekonomi yang memang ekspor impor kita juga terhambat semuanya rapotnya merah ya,” imbuhnya.

Baca juga: IFG Life Genjot Penetrasi Asuransi Lewat Platform One by IFG

Budi menambahkan, lini usaha asuransi marine hull di sektor korporasi juga masih belum menunjukkan kinerja yang baik, asuransi satelit saat ini baru ada satu yang diorbitkan. Lalu untuk energy off shore kinerjanya cukup stabil, meskipun untuk energy on shore menurun disebabkan tidak adanya proyek-proyek baru.

“Kemudian di personal accident ini juga minus nah di health insurance ini cukup menarik ya ini membukukan yang positif tapi ini juga disebabkan kemarin kita tahu di tahun akhir 2025 karena yang namanya medical inflation ini tinggi akhirnya mau tidak mau semua perusahaan asuransi umum maupun jiwa menaikkan harga untuk asuransi kesehatannya cukup signifikan,” ujar Budi.

Dampak Regulasi dan Lonjakan Klaim

Adapun, meningkat signifikannya asuransi surety ship merupakan imbas dari POJK Nomor 20 yang memicu banyak kontraktor tak mampu menutup surety ship-nya di perusahaan asuransi yang terkena aturan sesuai tersebut.

Baca juga: AAUI Tegaskan Asuransi Tetap Tangguh Hadapi Bencana, Permodalan Kuat

Selain itu, kinerja yang kurang baik dari asuransi aneka atau miscellaneous juga memengaruhi pendapatan premi. Di mana lini usaha asuransi itu mengalami lonjakan klaim dibayar 16,9 persen. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

Ekspansi Ritel, MR.DIY Indonesia Siap Tambah 270 Toko dan Flagship Store di 2026

Poin Penting MR.DIY Indonesia menargetkan pembukaan sekitar 270 toko baru pada 2026. Ekspansi didukung arus… Read More

7 hours ago

Geopolitik dan Harga Minyak Bayangi Ekonomi 2026, Permata Bank Lakukan Strategi Ini

Poin Penting Ekonom Permata Bank menilai geopolitik dan pasar global menjadi tantangan ekonomi 2026. Konflik… Read More

7 hours ago

Klaim Bencana Sumatra Belum Tuntas, Jasindo Targetkan Finalisasi Mei 2026

Poin Penting Jasindo masih memverifikasi kerusakan aset akibat bencana di sejumlah wilayah Sumatra. Nilai kerugian… Read More

8 hours ago

Ekonom Ingatkan PR Besar Pimpinan Baru OJK, dari Pasar Modal hingga Risiko BPR

Poin Penting Ekonom Permata menilai kepemimpinan baru OJK diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Transformasi integritas… Read More

8 hours ago

ICDX Gelar Commodity Outlook 2026

Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mengadakan ICDX… Read More

9 hours ago

KPK Tahan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

Poin Penting KPK resmi menahan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait kasus kuota haji.… Read More

9 hours ago