News Update

AAUI Tegaskan Asuransi Tetap Tangguh Hadapi Bencana, Permodalan Kuat

Poin Penting

  • AAUI menegaskan bencana alam tidak mengganggu stabilitas industri asuransi nasional karena permodalan dan manajemen risiko yang kuat.
  • Rata-rata Risk Based Capital (RBC) asuransi umum mencapai 300 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator.
  • Protection gap masih besar, dengan kerugian ekonomi bencana sekitar Rp60 triliun, sementara yang diasuransikan hanya sekitar 1 persen.

Jakarta – Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menegaskan bahwa bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah tidak mengganggu stabilitas industri asuransi nasional. 

Dengan tingkat permodalan yang kuat dan sistem pengelolaan risiko berlapis, industri asuransi umum dinilai tetap resilien dan mampu menjaga stabilitas sektor keuangan.

Direktur Eksekutif AAUI, Cipto Hartono mengatakan, seluruh perusahaan asuransi umum saat ini berada di bawah pengawasan ketat Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Dari sisi Risk Based Capital (RBC), rerata industri asuransi umum berada di kisaran 300 persen, jauh di atas ambang batas minimum yang ditetapkan regulator.

“Kalau berbicara RBC, industri asuransi umum secara rata-rata itu 300 persen. Artinya, tiga kali lipat klaim tersebut bisa dibayar,” ujar Cipto, di Jakarta, Jumat, 30 Januari 2026.

Baca juga: AAUI Minta Respons Cepat Industri Asuransi di Tengah Pendataan Klaim Banjir Sumatra

Menurut Cipto, meskipun bencana alam kerap terjadi secara tiba-tiba, risikonya tidak serta-merta membebani perusahaan asuransi.

Industri sendiri telah menerapkan mekanisme mitigasi risiko melalui skema layering, mulai dari reasuransi hingga retroseksi, baik di dalam maupun luar negeri.

“Ada mekanisme layering oleh reasuransi dan lain-lain. Nah, reasuransi juga tidak sendiri, ada retro lagi baik dalam dan luar negeri. Artinya, angka-angka tersebut sudah diprediksi dengan baik,” jelasnya.

Baca juga: Klaim Asuransi Bencana Sumatra Capai Rp567 Miliar, AAUI Soroti Protection Gap

Ia menilai, dengan struktur permodalan dan manajemen risiko yang ada, bencana berskala besar tidak berpotensi menggoyahkan stabilitas industri asuransi maupun sektor keuangan secara keseluruhan. 

Namun demikian, ia menyoroti masih besarnya protection gap sebagai tantangan utama yang perlu mendapat perhatian bersama.

Ia mencontohkan, kerugian ekonomi akibat bencana yang dilaporkan pemerintah mencapai sekitar Rp60 triliun. Sementara nilai kerugian yang diasuransikan hanya sekitar Rp1 triliun atau sekitar 1 persen dari total kerugian.

“Contohnya, negara kan memberitakan sekitar Rp60 triliun kerugian finansial atau economic loss-nya. Tapi yang diasuransi itu kan hanya 1 persen, hanya Rp1 triliun. Jadi artinya sebenarnya secara loss asuransi nggak terlalu besar sih,” tegasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Tantangan OJK ke Depan: Paling Utama Soal Independensi dan “Tangan Kotor” Politik Kekuasaan

Oleh Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank Media Group TAHUN 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK)… Read More

27 mins ago

Rilis Fitur Basic Talent Search, Jobstreet Targetkan Ini di 2026

Poin Penting Jobstreet meluncurkan fitur Basic Talent Search yang memberi akses hingga 50 juta profil… Read More

8 hours ago

Ini Alasan Komisi XI DPR Pilih Friderica Widyasari Dewi jadi Ketua OJK

Poin Penting Komisi XI DPR menetapkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua OJK periode 2026–2031 setelah… Read More

10 hours ago

Profil 5 Pimpinan Baru OJK 2026-2031 Hasil Fit and Proper Test DPR

Poin Penting Komisi XI DPR RI menetapkan lima anggota Dewan Komisioner OJK periode 2026–2031 setelah… Read More

11 hours ago

Bank Aladin Syariah Perkuat Ekosistem dan Social Finance untuk Dorong Pertumbuhan 2026

Poin Penting Bank Aladin Syariah menargetkan pertumbuhan 9-11 persen pada 2026 dengan memperkuat layanan digital… Read More

11 hours ago

BNI Siapkan Layanan Terbatas saat Libur Lebaran, Puluhan Outlet Tetap Beroperasi

Poin Penting BNI membuka layanan terbatas di 23 outlet pada 20 Maret 2026 dan 32… Read More

11 hours ago