AAUI Keberatan, OJK Janjikan Kaji 5 Ketentuan Ini

Nusa Dua-  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerima usulan rekomendasi Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) tentang lima isu dalam industri asuransi umum. Hal tersebut disampaikan OJK dalam paparannya saat CEO Gathering di Bali.

Seperti diketahui, sebelumnya berkembang isu mengenai keberatan para pelaku asuransi mengenai sejumlah ketentuan, diantaranya kewajiban untuk memiliki direktur kepatuhan, implementasi IFRS, dan juga berlakunya UU penjaminan yang tidak memperbolehkan asuransi menjalankan bisnis penjaminan.

Karena itu, para pelaku asuransi dibawah payung AAUI pun sepakat mengajukan keberatan yang kemudian diterima OJK. Berikut adalah hal-hal yang disepakati oleh OJK.

Perama, OJK menyetujui untuk mengkaji pelaksanaan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 73/POJK.05/2016 tentang Tata Kelola Perusahaan yang Baik bagi Perusahaan Perasuransian, yakni menunda pemberlakuan direktur kepatuhan yang seharusnya dipenuhi pelaku asuransi selambatnya pada akhir 2019.

Kedua, OJK sepakat bahwa kantor Akuntan Publik harus melakukan presentasi didepan OJK sebelum melakukan audit.

Ketiga, terkait penerapan International Financial Reporting Standard 2017 atau IFRS 17, OJK sepakat untuk melakukan diskusi mendalam dengan DSAK (dewan standar akuntansi) untuk menunda penerapan IFRS 17.

Keempat, untuk izin produk Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi (PAYDI), OJK belum bisa mengeluarkan petunjuk teknis. Sehingga, AAUI mengirimkan tanggapan terkait RSEPJK mengenai PAYDI tersebut.

Dan terakhir, OJK mendukung AAUI untuk melakukan judicial review terhadap Undang undang penjaminan.

Terkait keberatan tersebut, pengamat asuransi, Irvan Rahardjo pun mengakui, untuk penerapan IFRS misalnya, sangat berat bagi asuransi karena IFRS memisahkan premi resiko dan premi investasi (unit link ). “Yang dihitung hanya premi resiko sedang premi investasi harus di catat off balance sheet. Dgn sendirinya solvabilitas merosot” ujar Irvan.

Sementara untuk pengangkatan direktur kepatuhan Irvan menyetujui bahwa ini adalah hal yang baik untuk asuransi. “(Ini) Bagus untuk memastikan Tata Kelola Perusahaan dijalankan dengan baik sesuai dengan standard dan ketentuan yg berlaku”.

Direktur Kepatuhan, tambahnya, akan memastikan semua peraturan dipenuhi sehingga mencegah resiko ( resiko finansial, hukum reputasi, dan lain-lain ) (sehingga bisa) di mitigasi sedini mungkin.



Suheriadi

Recent Posts

BEI Ungkap 5 Saham Penyebab IHSG Turun Tajam Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 4,73 persen sepanjang periode 2-6 Februari 2026 dan ditutup di level… Read More

4 hours ago

Genjot Pertumbuhan Bisnis, Indospring (INDS) Perluas Ekspor ke Timur Tengah

Poin Penting Indospring membidik kawasan tersebut karena karakteristik pasar, khususnya dominasi truk Jepang, dinilai serupa… Read More

4 hours ago

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

Poin Penting BSN menggelar Developer Gathering 2026 di empat kota sebagai langkah strategis menjadikan developer… Read More

6 hours ago

BCA Insurance Luncurkan Aplikasi BIG, Bidik 20 Ribu Pengguna di 2026

Poin Penting BCA Insurance luncurkan BIG (BCA Insurance Guard) sebagai aplikasi mobile untuk mempermudah nasabah… Read More

6 hours ago

Intip Kinerja Bisnis Emas BSI Setelah Berstatus Bullion Bank

Poin Penting Dalam waktu kurang dari setahun sebagai bank emas, total nasabah bisnis emas BSI… Read More

6 hours ago

BCA Digital Perluas Penyaluran Kredit Ritel Lewat bluExtraCash

Poin Penting Sepanjang 2025, BCA Digital menyalurkan kredit Rp8,6 triliun atau tumbuh 38 persen secara… Read More

6 hours ago