AAUI; Asuransi umum masih tumbuh. (Foto: Erman)
Jakarta – Wakil Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Bidang Statistik, Riset, dan Analisa, Trinita Situmeang mengatakan, hingga kuartal III 2021 industri asuransi umum mencatatkan pendapatan premi sebesar Rp55,08 triliun atau tumbuh 2,2% secara tahunan.
“Premi yang dicatat pada periode tersebut mengalami kenaikan overall 2,2% secara tahunan. Premi dicatat asuransi umum selama tiga kuartal adalah Rp55 triliun, di mana terjadi kenaikan Rp1,20 triliun. Sementara, klaim yang dibayar mengalami penurunan 14,2% menjadi Rp22,17 triliun,” katanya, Selasa, 7 Desember 2021.
Untuk kontribusinya, lanjutnya, pendapatan premi asuransi umum masih dikontribusi oleh tiga lini usaha, yakni asuransi properti menggenggam market share 28,6%, kendaraan bermotor 20,3%, dan asuransi kredit 15,4%. Sementara, untuk kontribusi klaim dibayar, pangsa terbesar berasal dari PA & health dengan porsi 20,1% dari total klaim, diikuti asuransi properti, kendaraan, dan asuransi kredit masing-masing dengan porsi 19,7%, 18,5%, dan 16,00%.
“Untuk sumber bisnis atau distribution channel dari asuransi umum, komposisinya dari direct marketing itu 29,9%, leasing 16,9%, agency 9,6%, bancassurance 5,0%, dari jalur lainnya itu 3,5%, kemudian secara digital marketing 1,3%, telemarketing 0,6%, affinity 0,4%, dan yang paling besar untuk asuransi umum adalah melalui jasa keperantaraan atau broker yakni 32,8%,” ujar Trinita.
Ke depannya ia optimis, industri asuransi umum bertumbuh positif, seiring dengan perbaikan ekonomi yang dicatatkan Indonesia. “Untuk proyeksi tahun depan memang kita harus tetap optimis, karena indutsri ini secara penetrasinya itu kita harapkan akan meningkat. Pertumbuhan ekonomi kita juga sangat prospektif,” pungkas Trinita. (*) Bagus Kasanjanu
Poin Penting KPK melakukan OTT di lingkungan Bea Cukai Kemenkeu dan menangkap Rizal, mantan Direktur… Read More
Poin Penting Istana membantah kabar Presiden Prabowo menggunakan dua pesawat kenegaraan untuk perjalanan luar negeri.… Read More
Poin Penting BTN menargetkan pembiayaan 20.000 rumah rendah emisi pada 2026, setelah menyalurkan 11.000 unit… Read More
Poin Penting Pakar menilai masuknya Danantara Indonesia ke pasar modal sah secara hukum dan tidak… Read More
Poin Penting NPL konstruksi BTN berasal dari kredit legacy sebelum 2020 yang proses pemulihannya membutuhkan… Read More
Poin Penting Komisi VIII DPR RI menekankan sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat penanggulangan… Read More