SmartFin Day 2025. (Foto: Dok. AAJI)
Jakarta – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menggelar SmartFin Day 2025 sebagai bagian dari rangkaian acara Top Agent Awards (TAA) ke-38. Dalam kegiatan ini, AAJI membagikan tips mengatur keuangan bagi mahasiswa di Yogyakarta.
Salah satu narasumber, Chief Customer and Marketing Officer Prudential Indonesia, Karin Zulkarnaen, menjelaskan bahwa budaya Fear of Missing Out (FOMO) kerap memicu perilaku konsumtif. Hal ini mendorong pengeluaran tanpa rencana hanya demi mengikuti tren.
Oleh karena itu, Karin menegaskan perlunya menetapkan tujuan keuangan yang jelas dan membuat budgeting konsisten. Ia mencontohkan metode pengelolaan uang dengan formula 40-30-20-10.
Baca juga: Literasi Keuangan RI 2025 Masih Tertinggal dari Inklusi? Ini Penjelasan OJK
Secara rinci, 40 persen untuk kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, dan biaya hidup, 30 persen untuk pembayaran utang, 20 persen untuk dana darurat, asuransi, tabungan, atau investasi, serta 10 persen untuk biaya sosial atau donasi.
“Asuransi memegang peran penting dalam perencanaan keuangan, baik untuk melindungi dari risiko tak terduga, meminimalkan kerugian finansial, maupun membantu mencapai tujuan keuangan jangka panjang,” ucap Karin dalam keterangan resmi dikutip, Senin, 18 Agustus 2025.
Selanjutnya ada Chief Communications Officer AXA Mandiri Financial Services, Atria Rai, yang memberikan tips belanja bijak di era digital. Ia mendorong mahasiswa menilai setiap pembelian secara kritis agar pengeluaran tetap sesuai dengan tujuan hidup.
“Membangun fondasi keuangan adalah langkah awal sebelum berinvestasi. Fondasi ini mencakup proteksi yang memadai untuk mengelola risiko seperti sakit, kecelakaan, disabilitas, meninggal dunia, dan pensiun, memiliki tabungan darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran, serta mengelola utang secara sehat,” ujar Atria.
Atria juga mengingatkan pentingnya hidup di bawah kemampuan, memahami hubungan imbal hasil dan risiko, serta menempatkan proteksi sebagai dasar dalam piramida perencanaan keuangan.
Baca juga: Industri Keuangan Perlu Jaga Integritas agar Terhindar dari Risiko Hukum
Adapun, seorang penulis, komedian, content creator, dan investor, Raditya Dika juga turut hadir dalam acara tersebut yang juga memberikan perspektif unik tentang pengelolaan keuangan.
Ia menyoroti bahaya self-serving bias, kebiasaan menyalahkan keadaan atau orang lain saat keuangan bermasalah. Menurutnya, kejujuran pada diri sendiri adalah langkah awal untuk memperbaiki kondisi finansial.
Selain itu, dirinya juga membahas konsep opportunity cost, yakni potensi keuntungan yang hilang ketika memilih satu opsi dibandingkan opsi lain. Uang yang dihabiskan untuk barang tren sesaat, misalnya, mungkin lebih bermanfaat jika digunakan untuk kursus keterampilan yang bisa membuka peluang karier.
Baca juga: 3 Cara Efektif Merdeka Finansial di Hari Tua
Sebagai informasi, acara itu menjadi bukti kolaborasi OJK, UGM, dan AAJI dalam program GENCARKAN, sekaligus langkah nyata industri asuransi jiwa membekali generasi muda dengan keterampilan keuangan yang sehat, terencana, dan berkelanjutan. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting MR.DIY Indonesia menargetkan pembukaan sekitar 270 toko baru pada 2026. Ekspansi didukung arus… Read More
Poin Penting Ekonom Permata Bank menilai geopolitik dan pasar global menjadi tantangan ekonomi 2026. Konflik… Read More
Poin Penting Jasindo masih memverifikasi kerusakan aset akibat bencana di sejumlah wilayah Sumatra. Nilai kerugian… Read More
Poin Penting Ekonom Permata menilai kepemimpinan baru OJK diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Transformasi integritas… Read More
Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mengadakan ICDX… Read More
Poin Penting KPK resmi menahan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas terkait kasus kuota haji.… Read More