Pasar Modal RI Diguncang MSCI, Investor Global Makin Hati-hati

Pasar Modal RI Diguncang MSCI, Investor Global Makin Hati-hati

Poin Penting

  • Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan review indeks Indonesia, sementara Moody’s Ratings dan Fitch Ratings menurunkan outlook utang RI menjadi negatif.
  • Meski masih investment grade, perubahan outlook membuat investor global lebih berhati-hati.
  • Sentimen MSCI dan Moody’s berpotensi mendorong capital outflow dari pasar modal Indonesia.

Jakarta – Ekonomi Indonesia tengah mendapatkan sorotan serius dari sejumlah lembaga pemeringkat investasi global. Selain teguran dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) berupa pembekuan sementara proses review indeks saham Indonesia, pasar modal Indonesia juga menghadapi sentimen penurunan outlook peringkat utang oleh Moody’s Ratings dan Fitch Ratings dari stabil ke negatif.

Senior Investment Strategist Bank DBS, Daryl Ho mewanti-wanti jika sinyal negatif dari lembaga pemeringkat global tersebut akan memiliki dampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia, khususnya pada investasi pasar modal.

“Investor biasanya sangat sensitif terhadap perubahan fundamental dalam ratings,” ujar Daryl dalam acara media briefing DBS Chief Investment Officer (CIO) Insights yang diadakan secara virtual, Jumat, 13 Maret 2026.

Baca juga: Investor Asing Inflow Rp905,27 Miliar, 5 Saham Ini Terbanyak Diborong

Daryl mengatakan, sekalipun peringkat kredit Indonesia masih berada di level layak investasi atau investment grade, yakni BBB dari Fitch Ratings dan Baa2 dari Moody’s Ratings, posisi outlook Indonesia yang menurun telah membuat investor global berhati-hati untuk berinvestasi di Indonesia.

“Revisi ke negatif bukanlah sesuatu yang optimis bagi suatu negara. Saya pikir, jika Anda seorang manajer portfolio global, Anda harus berhati-hati bila memiliki eksposur ke obligasi Indonesia, mereka akan berisiko turun akibat rating kredit,” jelas Daryl.

Ia menerangkan, sentimen negatif dari sejumlah lembaga pemeringkat global inilah yang pada akhirnya mendorong peningkatan capital outflow dari pasar modal Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

“Tingkat sensitivitas investor pada perubahan rating, terutama bagi negara yang bergantung lebih banyak terhadap utang luar negeri, akan sangat lebih tinggi,” imbuhnya.

Baca juga: BCA Lakukan Buyback Saham Rp5 Triliun, Ini Tujuannya

Ia pun menyarankan para investor, khususnya investor domestik untuk mendukung pasar obligasi nasional dengan berinvestasi di obligasi, di tengah tren keluarnya dana investor asing.

“Saya pikir kita melihat tren ini di hampir semua ekonomi negara berkembang saat ini. Jadi, saya pikir ini akan mendukung pasar obligasi kita di kuartal ini,” tukasnya. (*) Steven Widjaja

Related Posts

News Update

Netizen +62