Poin Penting
- Konsolidasi perusahaan asuransi BUMN mulai memasuki tahap persiapan teknis di bawah koordinasi IFG sesuai arahan Danantara
- Seluruh anak usaha IFG, termasuk Askrindo, saat ini menyiapkan data dan terlibat dalam diskusi lintas perusahaan serta pembentukan PMO untuk mendukung kajian konsolidasi.
- Skema yang dikaji akan mengerucutkan asuransi BUMN menjadi tiga entitas utama: asuransi umum, asuransi kredit, dan asuransi jiwa.
Jakarta – Rencana konsolidasi perusahaan asuransi milik negara mulai memasuki tahap persiapan teknis. PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) menyatakan siap mengikuti arah kebijakan restrukturisasi yang sedang disiapkan oleh induk holding asuransi dan penjaminan, Indonesia Financial Group (IFG), berdasarkan arahan pemerintah melalui Danantara Indonesia.
Direktur Utama Askrindo, Fankar Umran mengatakan bahwa proses konsolidasi saat ini masih berada pada tahap penyiapan data dan kajian internal oleh seluruh entitas di bawah IFG.
Menurutnya, perusahaan-perusahaan anak usaha hanya menyiapkan kebutuhan data yang diperlukan untuk mendukung proses tersebut.
Baca juga: Askrindo dan HIPMI Hadirkan Akses Perlindungan Asuransi bagi Pengusaha Muda Tarakan
“Terkait konsolidasi memang sudah ada arahan, dipimpin oleh IFG. Jadi mereka yang mengatur semuanya berdasarkan arahan Danantara. Kami di perusahaan menyiapkan data-data yang diperlukan dan mengikuti arahan tersebut,” ujarnya kepada Infobanknews, saat ditemui usai acara Soemitro Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis (12/3).
Ia menjelaskan, skema konsolidasi yang tengah dikaji pemerintah akan mengerucutkan entitas asuransi BUMN menjadi tiga kelompok utama, yakni satu perusahaan untuk lini asuransi umum, satu perusahaan untuk asuransi kredit, serta satu perusahaan untuk asuransi jiwa.
Dalam rangka mendukung proses tersebut, seluruh anak usaha IFG kini terlibat dalam diskusi lintas perusahaan serta pembentukan project management officer (PMO) guna menyiapkan kajian dan dokumen yang dibutuhkan.
“Sekarang semua anak usaha IFG sedang dalam proses diskusi dan penyiapan data-data, termasuk pembentukan PMO. Kami masing-masing terlibat di dalamnya untuk menyiapkan dokumen yang diperlukan,” kata Fankar.
Baca juga: Danantara Sebut Konsolidasi BUMN Dorong Peningkatan Kapitalisasi Pasar
Meski demikian, ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan terkait entitas mana yang akan menjadi perusahaan utama dalam masing-masing lini bisnis. Penentuan tersebut sepenuhnya akan bergantung pada hasil kajian komprehensif yang tengah dilakukan.
“Untuk penentuan entitasnya tentu harus berdasarkan kajian yang komprehensif. Siapa yang menjadi survivor atau anchor akan ditentukan dari hasil kajian itu, mana yang paling cocok,” pungkasnya. (*) Alfi Salima Puteri










