Jakarta – Tahun 2024 lalu, perusahaan akuntansi multiglobal, menemukan data bahwa 53 persen pemimpin perusahaan di Indonesia masih enggan menggunakan artificial intelligence (AI).
Padahal, di era kemajuan teknologi ini, AI memberi banyak manfaat untuk operasional perusahaan. Anthony Amni, Country Manager Amazon Web Service (AWS) Indonesia, mengungkapkan setidaknya ada dua alasan utama kenapa perusahaan belum menerapkan AI.
Yang pertama adalah para petinggi harus memastikan bahwa perusahaan mereka bisa memanfaatkan AI untuk menyelesaikan masalah dan membuka peluang baru.
“Tugas pemimpin perusahaan adalah untuk kita bisa men-solve problem atau mencari opportunity, baru kemudian ditentukan teknologi apa yang digunakan. Jadi, saya bisa mengerti ketika pemimpin perusahaan itu harus dengan cermat,” ujar Anthony pada Jumat, 25 April 2025.
Baca juga: Helios Jadi Distributor Resmi AWS, Siap Dorong Adopsi AI di Indonesia
Masalah selanjutnya adalah kesiapan tenaga kerja di Indonesia yang belum semuanya memadai. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi perusahaan untuk mengembangkan kesiapan sumber daya manusia (SDM) Tanah Air untuk siap memakai AI.
AWS sendiri, tambah Anthony, juga kerap melakukan pelatihan di berbagai level sekolah, guna mempersiapkan talenta masa depan Indonesia agar lebih melek dengan teknologi, termasuk AI.
“Jadi saya rasa ketika dua ini, sambil kemudian adopsi AI-nya makin meningkat dan ketersediaan tenaga kerja makin tersedia, angka tadi menurut saya juga akan turun,” jelas Anthony.
Lebih lanjut, AI, bersama dengan teknologi cloud, diproyeksi mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) di sebuah negara. Hal tersebut tertuang dalam survei yang dilakukan AWS bersama dengan Telecom Advisory Services pada 2024 lalu.
Royani Lo, CEO PT Helios Informatika Nusantara (Helios), memaparkan bahwa tahun 2023 silam, pemanfaatan cloud mampu menghasilkan total PDB sebesar USD1 triliun, dan berpotensi meningkat puluhan kali sampai dengan 2030.
“Cloud itu sudah berkontribusi GDP (PDB) secara global, itu USD1 triliun di 2023. Nah, apalagi kalau kita bicara sampai 2030, itu bisa terbayang peningkatannya more than 10 times,” jelas wanita yang biasa disapa Poni ini.
Baca juga: Pasar AI Indonesia Penting, Alibaba Cloud Siapkan Investasi di SDM Lokal
Spesifiknya, di periode 2024-2030, angkanya berpotensi mencapai USD12,5 triliun. Sementara, penerapan AI berbasis cloud sudah berkontribusi terhadap PDB dunia sebesar USD98,8 miliar, dan bisa berkembang sampai dengan USD1,5 triliun dalam beberapa tahun ke depan.
Di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, potensinya sumbangan cloud dan AI berbasis cloud terhadap PDB masing-masing bisa menyentuh USD2,7 triliun dan USD202 miliar. Ini menunjukkan bahwa AI dan cloud sudah menjadi kebutuhan integral dalam pertumbuhan ekonomi.
“Kita bisa lihat juga tremendous growth (AI dan cloud), di mana (pertumbuhannya) bahkan bisa lebih dari 17 kali. Ini membuktikan bahwa (AI dan cloud) is no longer a choice, it is a need,” tegasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More
Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More
Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More
Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More