Market Update

257 Saham Hijau, IHSG Dibuka Menguat ke Level 8.384

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka meningkat ke level 8.384,20 atau menguat 0,27 persen pada pembukaan perdagangan pagi ini pukul 9.00 WIB (19/11).

Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan pasar saham hari ini, sebanyak 616,63 juta saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 50 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp398,95 miliar. 

Kemudian, tercatat terdapat 99 saham terkoreksi, 257 saham menguat, dan 261 saham tetap tidak berubah.

Baca juga: IHSG Hari Ini Diprediksi Melemah, Berikut Katalis Pemicunya

Manajemen Phintraco Sekuritas, sebelumnya telah memprediksi bahwa IHSG secara teknikal berpotensi untuk kembali mengalami pelemahan.

“Diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan atau pullback hingga menguji level support area di 8.300-8.325,” ucap Manajemen Phintraco dalam risetnya di Jakarta, 19 November 2025.

Diketahui, IHSG ditutup melemah di level 8.361,93 atau turun 0,65 persen pada perdagangan kemarin (18/11). Saham sektor energi mengalami koreksi terbesar, sebaliknya saham sektor properti menjadi satu-satunya sektor yang menguat. 

Pelemahan IHSG antara lain dipengaruhi oleh koreksi indeks bursa global dan regional yang mendorong terjadinya profit taking. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS juga menjadi faktor negatif. 

Beberapa saham terkait dengan komoditas emas masih melanjutkan koreksi akibat pelemahan harga emas dan rencana penerapan bea ekspor emas sebesar 7,5-15 persen di tahun 2026. 

Investor juga akan menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada hari ini (19/11) yang menurut konsensus akan mempertahankan BI Rate pada level 4,75 persen.

Baca juga: Begini Proyeksi Arah Saham BRRC Usai Umumkan Aksi Korporasi

Sentimen Global

Selain dalam negeri, perdagangan saham hari ini bakal dipengaruhi sejumlah sentimen global. Dari Inggris (19/11), akan dirilis data inflasi Oktober 2025 yang diperkirakan melambat menjadi 3,6 persen yoy, dari level 3,8 persen yoy di September 2025. 

Sedangkan inflasi di Euro Area diperkirakan juga sedikit melambat menjadi 2,1 persen yoy di Oktober 2025 dari 2,2 persen yoy di September 2025. Dari Amerika Serikat (AS), investor akan mencermati FOMC Minutes. (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Purbaya Disebut Temukan Data Uang Jokowi Ribuan Triliun di Bank China, Kemenkeu: Hoaks!

Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan bahwa informasi yang menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa… Read More

5 hours ago

Lewat AKSes KSEI, OJK Dorong Transparansi dan Pengawasan Pasar Modal

Poin Penting OJK mendorong keterbukaan informasi pasar modal melalui sistem pelaporan elektronik AKSes KSEI dan… Read More

7 hours ago

Penjualan Emas BSI Tembus 2,18 Ton, Mayoritas Pembelinya Gen Z dan Milenial

Poin Penting Penjualan emas BSI tembus 2,18 ton hingga Desember 2025, dengan jumlah nasabah bullion… Read More

7 hours ago

Transaksi Syariah Card Melonjak 48 Persen, Ini Penopangnya

Poin Penting Transaksi Syariah Card Bank Mega Syariah melonjak 48% pada Desember 2025 dibandingkan rata-rata… Read More

7 hours ago

Purbaya Siapkan Jurus Baru Berantas Rokok Ilegal, Apa Itu?

Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tengah membahas penambahan satu lapisan cukai rokok untuk memberi… Read More

7 hours ago

Permata Bank Mulai Kembangkan Produk Paylater

Poin Penting Permata Bank mulai mengkaji pengembangan produk BNPL/paylater, seiring kebijakan terbaru regulator, namun belum… Read More

8 hours ago