Keuangan

2026 di Depan Mata, Ini Strategi Mengatur Keuangan di Tengah Risiko Ekonomi

Poin Penting

  • Resolusi finansial perlu strategi terukur, dimulai dari evaluasi pemasukan, pengeluaran, aset, dan liabilitas.
  • Utang idealnya maksimal 30% dari penghasilan, sementara investasi harus disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko.
  • Asuransi penting untuk menjaga stabilitas keuangan; disarankan alokasi minimal 10% penghasilan untuk proteksi.

Jakarta – Tahun baru kerap diiringi dengan daftar resolusi yang ambisius, namun tidak sedikit yang berakhir sekadar wacana. Di tengah tekanan inflasi, ketidakpastian ekonomi global, dan meningkatnya kebutuhan hidup, resolusi finansial tak lagi cukup hanya berupa niat menabung atau mengurangi belanja. Diperlukan strategi yang terukur dan disiplin agar kondisi keuangan benar-benar lebih sehat pada 2026.

Faculty Head Sequis Quality Empowerment Sequis Life, Yan Ardhianto Handoyo menegaskan bahwa perencanaan keuangan seharusnya menjadi bagian utama dalam resolusi Tahun Baru.

Menurutnya, banyak orang baru menyadari pentingnya perencanaan ketika masalah sudah muncul.

“Membuat perencanaan keuangan akan membantu Anda menyiapkan dana untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan menentukan tujuan masa depan beserta strategi pendanaannya,” ujar Yan dalam keterangan tertulis, Senin, 15 Desember 2025.

Baca juga: Menyelisik Tren Bitcoin Tahun Baru Imlek 2025: Bagaimana Sentimen Pasar Kripto?

Ia menilai, kesalahan paling umum dalam mengelola keuangan adalah tidak memahami posisi finansial secara utuh. Padahal, langkah awal menuju finansial sehat justru dimulai dari evaluasi sederhana, yakni mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran secara jujur, termasuk pengeluaran kecil yang sering dianggap sepele.

“Kebiasaan kecil seperti membeli kopi setiap hari terlihat tidak signifikan, tapi jika dilakukan terus-menerus bisa menjadi beban keuangan yang besar,” kata Yan.

Evaluasi juga mencakup identifikasi aset dan liabilitas agar seseorang mengetahui apakah kondisi keuangannya sedang bertumbuh atau justru tergerus.

Dari titik ini, keputusan strategis bisa diambil, termasuk menilai apakah investasi yang dimiliki masih relevan dengan tujuan finansial ke depan.

Tetapkan Tujuan Finansial yang Terukur

Setelah memahami kondisi keuangan, tantangan berikutnya adalah menetapkan tujuan yang jelas dan terukur. Yan menekankan bahwa tujuan finansial yang spesifik akan jauh lebih mudah diwujudkan dibandingkan target yang abstrak.

“Tujuan yang jelas akan membantu mengukur kemampuan finansial sekaligus mempermudah penentuan instrumen keuangan yang tepat,” tuturnya.

Baca juga: 5 Langkah Financial Wellness untuk Sambut 2026 yang Lebih Terencana

Namun, tujuan saja tidak cukup tanpa pengelolaan anggaran yang konsisten. Di sinilah disiplin memainkan peran penting. Yan mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada pola konsumtif yang berlebihan, apalagi didorong kemudahan kredit.

“Utang sebaiknya hanya untuk kebutuhan produktif dan total cicilan idealnya tidak melebihi 30 persen dari penghasilan,” tegasnya.

Investasi dan Proteksi Jadi Kunci

Lebih jauh, Yan menilai bahwa mengandalkan pendapatan aktif semata semakin berisiko di tengah perubahan ekonomi yang cepat.

Pengembangan aset melalui investasi menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan. Namun, investasi harus disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing individu.

“Untuk tujuan jangka pendek dengan profil konservatif, instrumen yang stabil lebih tepat. Sementara untuk tujuan jangka panjang, instrumen dengan potensi pertumbuhan lebih tinggi bisa dipertimbangkan,” jelasnya.

Di atas semua strategi tersebut, proteksi menjadi fondasi yang kerap diabaikan. Padahal, risiko hidup tidak bisa diprediksi dan berpotensi menggagalkan seluruh rencana keuangan dalam waktu singkat.

“Asuransi berfungsi menjaga stabilitas finansial ketika risiko datang. Tanpa proteksi, aset dan tabungan yang sudah dibangun bisa habis dalam waktu singkat,” ucap Yan.

Ia menyarankan agar setidaknya 10 persen dari penghasilan dialokasikan untuk proteksi, khususnya bagi mereka yang memasuki fase kehidupan baru seperti menikah atau membeli rumah.

Dalam konteks inilah, produk asuransi dwiguna dinilai relevan sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang.

Sequis Life, misalnya, menghadirkan Sequis Future Saver Insurance yang memadukan perlindungan jiwa dan manfaat hidup. Produk ini memberikan manfaat meninggal dunia hingga 500 persen dari premi tahunan, sekaligus manfaat hidup berkala dan manfaat akhir kontrak yang dapat mendukung pencapaian tujuan finansial.

Baca juga: Strategi BSI Perkuat Penetrasi Layanan Keuangan Syariah di Indonesia

Dengan masa pembayaran premi yang relatif singkat, produk tersebut memberi ruang bagi nasabah untuk tetap membangun dana darurat, asuransi kesehatan, hingga investasi lainnya.

Menutup penjelasannya, Yan mengingatkan bahwa rencana keuangan bukan dokumen statis. Evaluasi rutin mutlak dilakukan agar strategi tetap relevan dengan perubahan kondisi ekonomi dan kehidupan.

“Rencana keuangan harus adaptif. Evaluasi bisa dilakukan setiap enam bulan atau minimal setahun sekali, terutama jika terjadi perubahan signifikan dalam hidup,” pungkasnya. (*) Alfi Salima Puteri

Yulian Saputra

Berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Saat ini bertugas sebagai editor di infobanknews.com. Sebelumnya, ia menulis berbagai isu, mulai dari politik, hukum, ekonomi, hingga olahraga.

Recent Posts

Pertamina Angkat Bicara soal Kebakaran SPBE Bekasi, Pasokan LPG Dipastikan Aman

Poin Penting Kebakaran SPBE Cimuning Bekasi menyebabkan 12 orang luka tanpa korban jiwa. Dugaan sementara,… Read More

38 mins ago

Sensus Ekonomi 2026, BPS Kerahkan 116 Ribu Petugas

Poin Penting: BPS mengerahkan 116 ribu petugas untuk menjamin akurasi data dalam Sensus Ekonomi 2026.… Read More

50 mins ago

Komisi II Apresiasi Digitaliasi Bank Sumut, Layanan Makin Cepat dan Efisien

Poin Penting Komisi II DPR mengapresiasi digitalisasi Bank Sumut yang membuat layanan perbankan lebih cepat,… Read More

58 mins ago

Gempa M 7,6 Guncang Sulut Berpotensi Tsunami, BMKG Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Gempa M 7,6 di Sulawesi Utara dipicu deformasi kerak bumi dengan mekanisme thrust… Read More

2 hours ago

PLN Catat Lonjakan Penggunaan SPKLU 4 Kali Lipat Selama Libur Lebaran 2026

Jakarta – PT PLN (Persero) mencatat lonjakan penggunaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hingga… Read More

2 hours ago

SeaBank Kantongi Laba Rp678,4 Miliar pada 2025, Melesat 79 Persen

Poin Penting SeaBank mencatat laba bersih Rp678,4 miliar di 2025, tumbuh 79 persen yoy, melanjutkan… Read More

4 hours ago