Untung Rugi Aksi BCA Akuisisi Bank Kecil

Untung Rugi Aksi BCA Akuisisi Bank Kecil

Jakarta – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) segera merampungkan proses akuisisi dua bank kecil yang rencananya akan diumumkan pada September 2018. Perseroan sendiri sudah menganggarkan dana hingga Rp4,5 triliun untuk memuluskan aksi korporasinya tersebut. Pengembangan usaha dan bisnis menjadi alasan utama BCA untuk segera menyelesaikan wacana akuisisi yang sudah bergulir sejak beberapa tahun lalu.

Lalu apakah dengan aksi korporasi yang bakal direalisasikan perseroan bakal memberikan cuan besar. Apalagi, ditengah persaingan yang ketat antar perbankan akan menjadi tantangan tersendiri bagi BCA untuk menggenjot anak usahanya tersebut. Tak tanggung-tanggung BCA akan mencaplok dua bank kecil sekaligus (Bank BUKU I, bank dengan modal inti di bawah Rp1 triliun). Hal ini tentu menjadi pekerjaan yang tak ringan bagi BCA untuk mendorong anak usahanya bisa bersaing dengan bank-bank lainnya.

Memang tak diragukan lagi, Bank milik Grup Djarum ini memiliki pengalaman dalam membentuk maupun mengelola anak usahanya. Selama ini, anak usaha BCA rata-rata selalu mencatatkan pertumbuhan. Pasalnya, aksi akuisisi dua bank kecil yang akan diumumkan dibulan September tahun ini untuk mendorong bisnis BCA lebih berkembang lagi salah satunya fokus ke sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan fokus pada digital banking. Bukan tak mungkin dua bank kecil yang akan diakuisisi akan fokus pada dua segmen tersebut.

Hal ini dibenarkan oleh Direktur BCA Rudy Susanto. Menurutnya, terus berkembangnya teknologi digital, Bank BCA harus mampu menyikapinya dengan cepat. Apalagi saat ini BCA bukan lagi hanya bersaing dengan bank-bank lainnya, namun juga bersaing dengan industri Financial Technology (Fintech). Kondisi ini menjadi alasan kuat bagi BCA untuk segera merealisasikan aksi korporasinya terhadap dua bank kecil. Pasalnya, dua bank yang akan diakuisisi ini salah satunya akan menjadi fully digital banking.

“Yang sedang kita review ada dua bank, itu bank kecil. Kita coba tahun ini, kita ingin fintech segala macem, kita coba digital bank only buat ngembangin produk-produk digital. Kita harapkan bank itu fokus kesitu. Jadi memang buat ngembangin produk-produk digital,” katanya di Jakarta, Rabu, 11 Juli 2018.

Dia mengungkapkan, alasan perseroan untuk menjadikan fully digital banking disalah satu dua bank kecil yang akan diakuisisinya tersebut, lantaran Bank BCA sendiri sudah terlalu besar, sehingga memiliki fokus diberbagai sektor. Untuk itu, bank kecil yang akan diakuisisinya ini akan didorong BCA untuk lebih berinovasi dalam pengembangan produk digital banking, yang nantinya juga akan menguntungkan perseroan, baik dari segi layanan maupun transaksi yang lebih efisien dan memudahkan nasabah.

“Kalau sekarangkan kita sudah ada legacy gak mungkin gampang diubah begitu saja (ke fully digital), kita udah besar sulit dirubah. Kalau mau coba-coba produk kita bisa tinggal kerja sama saja,” ujarnya.

Jika memang BCA berhasil mengelola dua bank kecil yang diakuisisinya tersebut, maka keuntungan Bank BCA akan semakin besar. Bahkan, bukan tidak mungkin BCA akan mampu menyalip bank-bank besar lainnya dari sisi pertumbuhan bisnis. Namun demikian, jika BCA gagal mengelola dua bank kecil yang diakuisisinya, maka BCA juga harus menyiapkan dana besar untuk tetap bisa mendorong bisnis anak usahanya tersebut, paling tidak bisnis dua bank kecil tersebut harus tetap jalan. Salah satunya mungkin dengan menyuntikkan dana.

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja menambahkan, bahwa pihaknya sangat serius untuk segera mengakuisisi dua bank kecil, yang akan diumumkan pada September 2018 mendatang. Perseroan juga sudah melakukan komunikasi dengan regulator dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara informal, mengenai niatan untuk pencaplokan dua bank kecil ini. Menurut Jahja, ada beberapa skenario yang tengah disiapkan perseroan untuk aksi korporasi tersebut.

Langkah pertama, kata Jahja, manajemen akan mengambil alih satu bank untuk dimerger dengan BCA. Sedangkan langkah kedua, BCA juga akan mengakusisi satu bank lagi yang akan digunakan untuk pengembangan digital banking. “Opsinya, bisa satu kami sedot ke BCA dan satu lagi tetap berdiri independen. Kira-kira proses akuisisi ini selesai dalam dua bulan lagi. Tapi ya seperti bayi, ada yang lahir prematur tetapi juga ada yang tepat waktu,” paparnya.

Keuntungan dari langkah yang diambil BCA ini akan membuat perseoran hanya perlu fokus untuk menjadikan satu bank target lain sebagai bank digital. Namun demikian, Jahja belum bisa menyebutkan dua nama bank yang akan diakuisisi perseroan. Jahja menegaskan, pihaknya akan segera mengumumkan disaat waktunya sudah tepat yakni pada September mendatang. Aksi akuisisi dua bank kecil ini sesuai dengan arahan regulator. Tujuannya adalah agar BCA berperan dalam proses konsolidasi perbankan.

Alasan BCA memilih bank kecil untuk diakuisisi yakni guna menghindari fluktuasi di pasar modal. Jika perseroan mengincar bank diatas kelompok BUKU II, maka dikhawatirkan bakal membuat kondisi pasar modal geger. Hal ini juga akan berdampak pada kondisi pasar keuangan nasional. Adapun dana yang digunakan untuk mengakuisisi bank kecil tersebut berasal dari uang kas internal perusahaan. Saat ini rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) BCA masih tercatat sebesar 23,1 persen, atau jauh di atas batas minimal perbankan sebesar 8 persen.

Dalam proses akuisisi tersebut, BCA harus membuat Perjanjian Kerahasiaan (Confidentiality Agreement) terlebih dulu, untuk pemberitahuan lebih lanjut terkait dengan akuisisi dua bank kecil ini. Selanjutnya, BCA baru akan mengaudit bank yang akan dikuisisi. Setelah itu baru BCA akan mengumumkan aksi akuisisi ini tepat pada September tahun ini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.