Stabilitas Harga Pangan Dorong Kondusifitas Politik

Stabilitas Harga Pangan Dorong Kondusifitas Politik

Jakarta – Stabilitas harga pangan yang terjaga baik pada saat menjelang maupun pasca Lebaran, menjadi keberhasilan tersendiri yang telah dicapai pemerintah. Stabilitas harga bahan pokok yang terjadi dianggap berkontribusi dalam menciptakan kondusifitas politik sehingga proses pembangunan dapat berjalan lebih baik untuk ke depannya.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, memandang, stabilitas harga pangan yang terjadi ini dikarenakan pemerintah telah mengantisipasi kebutuhan masyarakat sejak tiga bulan yang lalu sebelum Ramadhan. Kementerian Perdagangan yang dibantu Satgas Pangan juga proaktif memantau distribusi berbagai barang kebutuhan pokok.

Dengan demikian, aliran distribusi menjadi lancar dan isu terkait kekurangan bahan pokok bisa diminimalkan. Pada akhirnya, harga pun menjadi tidak bergejolak. “Kita harus mengapresiasi kinerja itu, termasuk pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan,” ujar Sarman seperti dikutip dal keterangannya, di Jakarta, Jumat, 22 Juni 2018.

Selain itu, kata Sarman, pemantauan rutin yang telah dilakukan oleh pemerintah, juga diyakini akan menggerus upaya para mafia-mafia pangan yang kerap memanfaatkan momentum Lebaran dalam mencari keuntungan. Terlebih Kementerian Perdagangan, pemerintah daerah, beserta Bulog terus melakukan operasi pasar guna melihat keefektifan dalam menekan harga.

“Kalau demand dan supply itu seimbang, kita yakin bahwa harga tidak bergejolak. Kita lihat hasilnya saat ini bahwa ketika menjelang Lebaran harga-harga bahan pokok itu pada posisi stabil. Stabil bukan berarti tidak naik,” ucap Sarman.

Lebih lanjut dirinya juga mengapresiasi sistem kerja dan komunikasi Menteri Perdagangan, Enggatiasto Lukita yang kerap memanggil para importir untuk memastikan izin dan penyaluran agar sesuai dengan datanya. Langkah tersebut dianggap mampu menghilangkan mafia-mafia importir yang kerap menyalahgunakan izin impornya.

Baca juga: Bantuan Pangan Non Tunai Sudah Terdistribusi 86%

Dengan adanya komunikasi oleh para importir tersebut, Kemendag jadi bisa mengetahui total izin impor yang didapat para importir. Dari sana, langkah selanjutnya bisa ditanyakan volume pendistribusian barang yang sudah diimpor kepada masyarakat. Jika ada yang tidak tepat sesuai, bisa segera diketahui dan ditindak. Dikombinasikan dengan pemantauan yang rutin, stok di pasar menjadi kian terjaga.

Senada dengan Sarman, Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adriana Elisabeth juga menyatakan, keadaan saat ini telah membuat stabilitas politik sekarang cukup terjaga, sehingga proses pembangunan dapat berjalan lebih baik. Kondisi ini menurutnya adalah sebuah kemajuan yang selayaknya perlu diapresisasi oleh semua pihak.

“Saya pikir ini sebuah kemajuan yang patut diapresiasi yaa. Ini merupakan salah satu keberhasilan pembangunan dari pemerintah sekarang. Itu harus diakui adanya,” kata Adriana.

Ketersediaan kebutuhan pokok yang memadai, diakuinya, telah berpengaruh menentukan kualitas sumber daya manusia dan stabilitas sosial politik sebagai prasyarat untuk melaksanakan pembangunan. Menurutnya, pemerintah sudah lebih transparan dan terbuka sehingga keberhasilan dan kekurangannya bisa dengan mudah diketahui. Dirinya berharap pemerintah dapat konsisten dan lebih baik lagi ke depannya.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pun mengapresiasi kepada semua pihak yang telah bekerjasama dalam pengendalian harga pangan saat Lebaran 2018. Kerjasama ini mendorong pengendalian harga pangan selama dua tahun berturut-turut. “Saya berterimakasih kepada seluruh stakeholder kepada Satgas Pangan, kepada dunia usaha sehingga dua tahun ini mampu mengendalikan inflasi dan harga bahan pokok,” paparnya.

Diakuinya, saat H-2 Lebaran sempat terjadi gejolak kenaikan seperti harga daging di pasar. Hal itu terjadi lantaran permintaan dari pedagang sendiri kepada pemerintah sesuai dengan trendnya. Namun demikian, kenaikan harga tersebut bisa disolusikan. “Mereka meminta pengertiannya, bahwa ini saat mereka mendapatkan keuntungan lebih pada H-2, yaa hampir merata, 5-10 ribu rata-rata (ambil untungnya),” tutupnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.