Semester I-2017, BRI Bukukan Laba Rp13,4 triliun

Semester I-2017, BRI Bukukan Laba Rp13,4 triliun

Jakarta–PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) pada semester I-2017 membukukan laba sebesar Rp13,4 triliun, naik 10,4 persen dibanding periode yang sama di tahun lalu yang sebesar Rp12,1 triliun.

“Hingga semester I pada tahun 2017 telah membukukan laba sebesar Rp13,4 triliun, naik 10,4 persen,” ungkap Direktur Utama BRI, Suprajarto di Kantor Bank BRI, Jakarta, Kamis, 3 Agustus 2017.

Suprajarto menambahkan, bahwa kenaikan laba bersih tersebut didorong oleh beberapa faktor, di antaranya pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang pada semester I-2017 tumbuh double digit. Juga perbaikan kualitas kredit, serta fokus perseroan untuk memperkuat bisnis transaction banking sehingga meningkatkan Fee Based Income (FBI).

Dari sisi DPK hingga akhir Juni 2017, DPK BRI beserta perusahaan anak cercatat Rp768 triliun atau naik 12,3 persen apabila dibandingkan dengan posisi akhir Juni 2016 sebesar Rp683,7 Tltriliun.

“Dana murah berupa giro dan tabungan (CASA) mendominasi sebesar 56,09 persen dari keseluruhan total DPK.” tukas Suprajarto.

Dirinya menambahkan, dana Giro BRI tercatat memiliki pertumbuhan yoy tertinggi sebesar 17,4 persen menjadi Rp130,6 triliun, sedangkan tabungan tumbuh 11,5 persen secara tahunan menjadi Rp300,1 triliun. Dana deposito BRI juga mengalami kenaikan, yakni sebesar 11,1persen menjadi Rp337,2 triliun.

Sementara kinerja pendapatan ditopan oleh pendapatan bunga bersih (NII) yang tercatat naik sebesar 12,4 persen menjadi Rp36,3 triliun.

Sedangkan Fee Based Income (FBI) senilai Rp4,9 triliun atau naik 19 persen dalam setahunan. Komposisi FBI terhadap total pendapatan secara tahunan naik dari 7,7 persen di bulan Juni 2016 menjadi sebesar 8,6 persen di bulan Juni 2017. Salah satu penyumbang FBI BRI terbesar adalah jasa transaksi e-channel dan kartu debit dengan komposisi sekitar 26 persen dari keseluruhan FBI BRI.

“Ke depan, Bank BRI optimis mampu menjaga kinerja positif dengan tetap berpedoman kepada asas kehati-hatian dan prinsip Good Corporate Governance,” tutup Suprajarto. (*)

 

 

Editor: Paulus Yoga

Leave a Reply

Your email address will not be published.