Sektor Semen Tertekan, Saham INTP Paling Anjlok

Sektor Semen Tertekan, Saham INTP Paling Anjlok

Jakarta – Rentangan tahun 2018 telah separuh terlewati. Seluruh emiten yang ada di industri pasar modal nasional juga telah merampungkan kinerjanya di sepanjang Semester I/2018. Catatan kinerja tersebut berkorelasi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap harga sahamnya yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tak terkecuali saham-saham sektor industri semen nasional, yaitu meliputi saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) dan PT Indocement Tunggal PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP).

Berdasarkan data perdagangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam satu semester terakhir, pergerakan harga saham keempat emiten semen tersebut kompak mengalami pelemahan.

Sayangnya, diantara seluruh pelemahan yang terjadi, saham INTP tercatat melemah paling dalam. Membuka awal tahun 2018, saham INTP masih diperdagangkan dengan harga Rp23.000 per saham. Sedangkan per akhir Semester I/2018, yaitu tepatnya pada penutupan perdagangan Jumat (29/6) lalu, harga saham INTP melorot menjadi Rp13.650 per saham. Artinya ada penurunan harga saham hingga 40,65 persen dibanding harga di awal tahun.

Penurunan harga saham INTP tersebut jauh lebih dalam dibanding, misalnya harga saham SMGR yang mengawali tahun dengan harga Rp10.275 per saham. dan pada penutupan perdagangan Jumat (29/6) lalu menyusut menjadi Rp7.125 per saham.

Dengan demikian, pelemahan harga saham SMGR sepanjang Semester I/2018 ‘hanya’ 30,65 persen. Sedikit lebih dalam dibanding SMGR, harga saham SMBC terpantau melemah 31,51 persen menjadi hanya Rp565 per saham, dari semula pada awal tahun masih Rp825 per saham. Bahkan, saham SMBR hanya terkoreksi 0,81 persen dari harga awal tahun Rp3.690 per saham dan masih bertahan di level Rp3.660 pada penutupan perdagangan Jumat (29/6) lalu.

Memaknai hal itu, Direktur Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, menyebut bahwa sektor saham tengah menderita tekanan yang cukup berat dari faktor kelebihan kapasitas (over capacity) seiring stagnasi kinerja penjualan di sepanjang tahun 2018 ini. Hal tersebut merupakan imbas dari cukup lesunya penjualan sektor property yang selama ini menjadi salah satu penopang utama kinerja sektor semen.

“Kita tahu investasi terbesar di sektor semen itu ya untuk bangun pabrik. Karena penjualan seret, maka terjadi over capacity dan investasi yang besar tadi jadi tertahan, nggak balik jadi profit. Ini yang jadi sentimen negative di pelaku pasar,” ujar Hans kepada wartawan.

Namun secara khusus Hans mengaku belum melihat secara pasti alasan mengapa saham INTP terjungkal paling dalam dibanding saham-saham semen yang lain. Yang jelas menurut Hans dengan tekanan yang ada, hal sekecil apa pun terkait kinerja perusahaan memang bakal menjadi sorotan dan lalu berpotensi berkembang menjadi sentimen negatif bila tidak diantisipasi dengan baik.

Sebelumnya, analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, juga menyoroti rencana INTP untuk menaikkan harga jual pasca Lebaran tahun ini. Menurut Reza, rencana tersebut salah momentum dan sangat mungkin bakal menambah sentimen negatif di kalangan pelaku pasar karena justru kontraproduktif dengan kondisi keseluruhan industri yang tengah kelebihan pasokan.

“Timing mereka untuk naikkan harga jual jelas tidak pas. Justru dengan pasokan yang berlimpah secara alamiah harga pasti akan turun. Logikanya mana mau konsumen membayar lebih saat produk di pasar berlimpah,” tutur Reza.

Bila memang ingin menyelamatkan marjin yang didapat seiring dengan sepinya penjualan, Reza lebih menyarankan agar manajemen INTP lebih menggenjot penjualan ritel di masyarakat yang relatif tidak terganggu kondisi ekonomi yang ada. (*)

1,742 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published.