Poin Penting
- Sektor kehutanan, pulp, dan kertas menjadi penerbit surat utang korporasi terbesar pada semester I 2026 dengan nilai Rp12,8 triliun.
- Holding company dan pembiayaan konsumtif otomotif menyusul di posisi berikutnya, masing-masing mencatat penerbitan Rp11,7 triliun.
- Pefindo menilai kenaikan yield surat utang meningkatkan biaya pendanaan sehingga memengaruhi minat perusahaan menerbitkan surat utang.
Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat sektor kehutanan, pulp, dan kertas menjadi kontributor terbesar penerbitan surat utang korporasi sepanjang Januari-Juni 2026. Nilai penerbitan dari sektor tersebut mencapai Rp12,8 triliun, tertinggi dibandingkan sektor lainnya.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto membeberkan, penerbitan surat utang dari sektor kehutanan, pulp, dan kertas didominasi instrumen obligasi dan sukuk dengan komposisi yang relatif seimbang.
“Untuk yang paling banyak secara nasional di tahun ini masih didominasi oleh penerbitan dari sektor kehutanan, pulp, dan kertas. Ini totalnya mencapai Rp12,8 triliun,” kata Suhindarto, dalam PEFINDO Press Conference 2026, Rabu, 22 Juli 2026.
Darto, sapaan akrabnya, menjelaskan dari total penerbitan tersebut sekitar Rp6,7 triliun berasal dari obligasi, sedangkan Rp6,2 triliun berasal dari sukuk.
Baca juga: Pefindo Optimistis Obligasi Korporasi 2026 Tembus Rp196,86 Triliun
Sementara itu, posisi kedua ditempati sektor perusahaan induk (holding company) dengan nilai penerbitan senilai Rp11,7 triliun.
Nilai serupa juga dicatat sektor pembiayaan konsumtif otomotif, yang menjadi salah satu sektor paling aktif menghimpun pendanaan melalui pasar surat utang.
Lalu, di bawahnya terdapat sektor perbankan yang secara historis menjadi salah satu penerbit surat utang korporasi terbesar di Indonesia. Adapun sektor pertambangan melengkapi lima besar dengan total penerbitan mencapai Rp8,1 triliun.
Peringkat Pefindo Didominasi Sektor yang Sama
Sementara itu, berdasarkan data surat utang yang diperingkat oleh Pefindo, komposisi sektor penerbit juga menunjukkan pola yang hampir sama.
Baca juga: Pefindo Soroti Tantangan UU PDP, Akses Pembiayaan SME Terancam Tersendat
Sektor kehutanan, pulp, dan kertas tetap menjadi kontributor utama, disusul sektor perbankan di posisi kedua.
Lalu, posisi ketiga ditempati sektor pembiayaan, sedangkan sektor pertambangan berada di urutan keempat dengan nilai penerbitan Rp8,1 triliun.
Adapun posisi kelima ditempati entitas terkait pemerintah yang memiliki mandat khusus atau memberikan layanan publik, dengan total penerbitan mencapai Rp7,8 triliun.
“Sementara sektor lainnya memiliki nilai penerbitan yang berada di bawah lima sektor tersebut,” ujar Suhindarto.
Kenaikan Yield Pengaruhi Penerbitan Surat Utang
Darto menilai, salah satu faktor penentu tren penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 yakni berasal dari tekanan biaya dana (cost of fund).
Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan yield surat utang korporasi pada kuartal pertama hingga kuartal kedua 2026 dibandingkan posisi akhir 2025.
Menurutnya, kenaikan yield membuat biaya pendanaan melalui penerbitan surat utang menjadi lebih mahal sehingga memengaruhi keputusan perusahaan dalam mencari sumber pembiayaan melalui pasar modal. (*)
Editor: Yulian Saputra


