Pertumbuhan Kredit di Oktober Melambat, Ini Faktornya

Pertumbuhan Kredit di Oktober Melambat, Ini Faktornya

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatatkan pertumbuhan kredit perbankan melambat pada Oktober 2019, di mana tren perlambatan penyaluran kredit yang terjadi sejak Oktober 2018 masih berlanjut di Oktober 2019.

Berdasarkan laporan uang beredar periode Oktober 2019 BI, yang dikutip di Jakarta, Jumat, 29 November 2019 menyebutkan, penyaluran kredit Oktober 2019 tercatat sebesar Rp5.531,4 triliun atau hanya tumbuh 6,6% (yoy) dan terlihat melambat dari bulan sebelumnya sebesar 8,0% (yoy). BI memandang pertumbuhan tersebut merupakan level pertumbuhan kredit terendah pada bulan Oktober selama 5 tahun terakhir.

Perlambatan terlihat terjadi baik pada debitur korporasi maupun perorangan. Kredit kepada korporasi melambat dari 8,1% (yoy) pada bulan sebelumnya menjadi 6,1% (yoy) pada Oktober 2019, sementara kredit kepada perorangan melambat dari 8,9% (yoy) pada September 2019 menjadi 8,4% (yoy).

Perlambatan pertumbuhan kredit terjadi pada seluruh jenis penggunaan misalnya Kredit modal kerja (KMK) mengalami perlambatan dari 6,1 % (yoy) menjadi 4,1% (yoy) pada Oktober 2019 terutama pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) serta sektor Industri Pengolahan.

Sedangkan KMK sektor PHR melambat dari 4,9% (yoy) menjadi 3,9% (yoy) pada Oktober 2019 terutama kredit yang disalurkan untuk subsektor perdagangan beras di DKI Jakarta dan Jawa Timur. KMK kepada sektor industri pengolahan juga mengalami perlambatan, dari 7,2% (yoy) menjadi 3,8% (yoy) khususnya pada subsektor industri pengilangan minyak bumi, pengolahan gas bumi di wilayah Kepulauan Riau.

Tak hanya itu, untuk Kredit Investasi (Kl) juga mengalami perlambatan, dari 13,0% (yoy) pada bulan September 2019 menjadi 11,4% (yoy) terutama berasal dari sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan serta sektor Konstruksi, sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan juga hanya tumbuh 6,1% (yoy), Iebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 8,4% (yoy) yang disebabkan oleh perlambatan kredit di subsektor perkebunan kelapa sawit di wilayah Jambi dan Kalimantan Tengah.

Sementara itu, sektor Konstruksi mengalami perlambatan sebesar 42,6% (yoy), dari peningkatan bulan sebelumnya sebesar 52,6% (yOy) terutama pada subsektor konstruksi instalasi gedung di DKI Jakarta. Kemudian, untuk Kredit Konsumsi (KK) pada Oktober 2019 sedikit melambat, dari 6,9% (yoy) menjadi 6,5% (yoy), terutama disebabkan oleh perlambatan kredit multiguna.

Kredit multiguna pada Oktober 2019 juga melambat sebesar 9,0% (yoy), dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 9,9% (yoy). Sementara itu KPR tercatat tumbuh stabil sebesar 10,8% (yoy). Di sisi lain, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) tercatat mengalami peningkatan, dari 1,0% (yoy) pada September 2019 menjadi 1,6% (yoy) disebabkan oleh peningkatan penyaluran kredit pada kendaraan roda empat.

Sedangkan pada segmen Kredit properti pada September 2019 tercatat sebesar Rp1.024,2 triliun, melambat dibandingkan bulan sebelumnya, dari 15,3% (yoy) pada September 2019 menjadi 12,6% (yoy) pada Oktober 2019 disebabkan oleh perlambatan kredit konstruksi maupun real estate. Pertumbuhan kredit konstruksi melambat, dari 26,0% (yoy) menjadi 18,6% (yoy) pada Oktober 2019. Pada kredit real estate melambat dari 7,9% (yoy) menjadi 5,9% (yoy) pada Oktober 2019 terutama pada subsektor real estate perumahan flat atau apartemen di wilayah DKI Jakarta dan Banten.

Sejalan dengan perlambatan kredit, penyaluran kredit sektor UMKM pada Oktober 2019 melambat dibandingkan bulan sebelumnya, dari 12,3% (yoy) menjadi 9,5% (yoy). Perlambatan penumbuhan kredit UMKM disebabkan oleh perlambatan pada seluruh skala usaha, di mana kredit usaha mikro, kecil dan menengah dari masing-masing 15,8% (yoy), 11,9% (yoy), dan 10,7% (yoy) menjadi masing-masing sebesar 11,2% (yoy), 11,1% (yoy), dan 7,4% (yoy) pada Oktober 2019. Berdasarkan jenis penggunaannya, terjadi perlambatan pada kredit UMKM jenis penggunaan investasi maupun modal kerja. (*)

Editor: Rezkiana Np

Leave a Reply

Your email address will not be published.