Pelaku Pasar Nantikan Hasil Pertemuan BOJ

Pelaku Pasar Nantikan Hasil Pertemuan BOJ

oleh Agung Galih Satwiko

 

PASAR saham global hari Jumat umumnya menguat karena kebijakan stimulus moneter di Eropa yang lebih besar dari yang diperkirakan memberikan sentimen positif akan naiknya pinjaman perbankan yang mendukung pemulihhan ekonomi. Di Asia, indeks Nikkei menguat 0,51%, indeks Hang Seng naik 1,08%, dan Shanghai Composite menguat 0,20%. Sementara di Eropa, FTSE 100 Inggris naik 1,71% dan DAX Jerman naik 3,51%. Di AS, DJIA naik 1,28% dan S&P 500 index naik 1,64%. Pagi ini pasar Asia dibuka menguat, indeks Nikkei naik 1,67% (08.25 WIB).

Pelaku pasar yang awalnya tidak terlalu optimis dan positif setelah ECB meluncurkan paket kebijakan stimulus pada hari kamis lalu, berbalik dengan sentimen positif pada hari Jumat. Pelaku pasar menyimpulkan bahwa pengumuman ECB kamis lalu paling tidak memberikan tiga poin yang seharusnya direspons positif: (i) meskipun ECB siap untuk menurunkan tingkat bunga lebih rendah, namun ECB tidak akan melakukan dalam waktu dekat, (ii) ECB lebih mementingkan pembelian asset dan kemudahan pemberian pinjaman oleh perbankan sebagai alat stimulus moneter ke depan, dan (iii) ECB tidak berniat untuk melemahkan Euro, namun lebih fokus pada penyaluran kredit domestik.

Pada hari Sabtu 12 Maret lalu, China Securities Regulatory Commission (CSRC) mengadakan konferensi pers dan menyatakan bahwa otoritas China akan lebih proaktif dalam melakukan intervensi pasar saham apabila terjadi tekanan. CSRC chairman yang baru, Mr. Liu Shiyu menyatakan bahwa saat ini terlalu dini untuk membicarakan penghentian pembelian saham oleh China Securities Finance (CSF), suatu badan yang dibentuk Pemerintah China untuk menjaga harga saham di China. Saat ini CSF telah mengoleksi saham dari sekitar 600 perusahaan publik yang terdaftar di bursa Shanghai dan Shenzen, dan akan terus aktif beroperasi di masa mendatang. Selain itu saat ini CSRC juga tengah melakukan kajian menyeluruh untuk mempercepat proses administrasi IPO.

Rusia tahun lalu telah melakukan pengalihan dana dari sovereign wealth fund (SWF) sebesar 2,6 triliun Ruble (USD37 miliar) untuk menutup fiscal gap tahun 2015. Dana yang berlimpah tersebut membuat otoritas moneter di Rusia tidak perlu menurunkan tingkat bunga karena telah berlimpahnya likuiditas. SWF Rusia memperoleh dana dari akumulasi kekayaan ekspor minyak. Tahun ini Kementerian Keuangan Rusia memperkirakan akan menarik kembali sekitar 2 triliun Ruble dari SWF tersebut.

BOJ akan memulai pertemuan dua hari mulai hari ini untuk menentukan arah kebijakan moneternya. Dalam pertemuan tanggal 29 Januari lalu, BOJ mengejutkan pelaku pasar dengan menerapkan kebijakan tingkat bunga negatif. Pascakebijakan tersebut, sekitar 70% Japan Government Bonds memiliki yield negatif. Tingkat bunga KPR juga turun dari rata-rata 1,05% sebelum kebijakan tingkat bunga negatif, menjadi 0,8% setelah kebijakan tersebut. Sementara tingkat bunga deposito tiga bank terbesar turun ke rekor terendah yaitu sebesar 0,001%. Artinya setiap deposito sebesar 1 juta yen, nasabah menerima 10 Yen per tahun. Analis Moody’s memperkirakan tidak akan ada tambahan stimulus dalam pertemuan dua hari ini.

Harga komoditas dalam tren meningkat sejak pertengahan Januari 2016. Analis ANZ menyebutkan bahwa pasar komoditas termasuk minyak menunjukkan bahwa yang terburuk telah terlewati. Harga komoditas stabil dan cenderung meningkat. Bloomberg commodity index yang terus menurun sejak pertengahan tahun 2014 (tercatat 134,6 pada tanggal 30 Juni 2014), mencatat titik terendahnya pada tanggal 20 Januari 2016 sebesar 72,8 sebelum menunjukkan tren meningkat hingga level 79,9 jumat lalu.

Harga minyak dunia ditutup naik setelah International Energy Agency menyebutkan bahwa harga minyak telah menyentuh titik terendahnya. Kembalinya Iran sebagai Negara pengekspor minyak ternyata tidak seburuk yang diharapkan. Selain itu jumlah produksi minyak dari beberapa Negara produsen minyak seperti Iraq, Nigeria dan UAE juga telah turun. Pada perdagangan jumat, WTI crude Nymex untuk pengiriman April naik USD0,66 (1,7%) ke level USD38,50 per barrel. Sementara Brent crude London’s ICE naik USD0,34 (0,9%) ke level USD40,39 per barrel. Keduanya mencatat harga tertinggi tahun ini. Baker Hughes hari Jumat melaporkan bahwa jumlah kilang minyak AS yang aktif tercatat turun 6 unit ke 386 unit, turun 12 minggu berturut-turut.

Yield UST naik seiring dengan beralihnya sentimen risiko investor ke investasi yang lebih berisiko. Yield UST 10 year naik 5 bps ke level 1,98%. Sejak awal tahun ini, yield UST 10 year telah turun 29 bps (akhir tahun lalu 2,27%).

Pasar SUN hari Jumat 11 Maret ditutup menguat, yield SUN tenor 10 tahun turun 10 bps ke level 7,78%. Yield SUN tenor 10 tahun telah turun 96 bps sejak akhir tahun lalu yang tercatat sebesar 8,74%. IHSG ditutup naik 20,57 poin (0,43%) ke level 4.813,78. Investor asing membukukan net sell sebesar Rp26 miliar, sehingga year to date investor asing membukukan net buy sebesar Rp3,7 triliun. Year to date IHSG membukukan peningkatan indeks sebesar 4,8% (IHSG akhir tahun lalu sebesar 4.593,00). Sementara itu, nilai tukar Rupiah melemah Rp23 ke level Rp13.075 per Dolar AS. NDF Rupiah 1M menguat Rp134 ke level Rp13.043 per USD. Forward rate menguat bahkan berada di bawah spot rate pada hari Jumat, mengindikasikan penguatan Rupiah dalam jangka pendek. Persepsi risiko turun, yang tercermin dari turunnya CDS spread 5Y sebesar 6 bps ke level 196. CDS spread telah turun 34 bps dari akhir tahun lalu yang tercatat sebesar 230 bps. (*)

Penulis adalah staf Wakil Ketua DK OJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.