Menilik Peluang IHSG Balik ke Level Psikologis 5.000

Menilik Peluang IHSG Balik ke Level Psikologis 5.000

IHSG akan kah kembali tembus 5.000 dan kembali menyetak rekor baru? Dwitya Putra
Jakarta–Posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun ini pernah mencapai level tertinggi sepanjang masa hingga diatas 5.500, seiring sikap optimistis banyak investor akan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Namun semuanya berubah setelah perlambatan ekonomi global masuk menghantui berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut membuat ekonomi Indonesiapun ikut terseret, bahkan membuat nilai tukar mata uang Indonesia terpuruk hampir ke Rp15.000/ USD dan IHSG ke level 4.100.

Angka tersebut tentu sangat jauh dari dugaan banyak investor, khususnya IHSG. Karena jika menelik posisi IHSG di awal tahun berada di level 5.200san.

Yang jadi pertanyaannya kini, bisakah IHSG balik lagi menyentuh level psikologis 5.000 di akhir tahun? Terakhir pada perdagangan Jumat kemarin, 30 Oktober 2015, IHSG ditutup turun 16,842 poin atau 0,38% ke level 4.455,180.

Analis di pasar modal sendiri banyak yang memperoeksikan IHSG di akhir tahun akan sulit menembus level psikologis 5.000, apa lagi melewatinya.

Alasannya, selain belum banyaknya sentimen positif yang mampu menggerakan pelaku pasar secara signifikan, ancaman kenaikan suku bunga AS juga masih menghantui hingga akhir tahun.

Analis Pemeringkat Efek Indonesia, (PEFINDO) Guntur Tri Hariyanto sendiri menuturkan, potensi kenaikan suku bunga AS masih kemungkinan terjadi di akhir tahun 2015.

Meskipun bila berkaca pada data-data ekonomi AS terakhir ada kemungkinan kenaikan suku bunga akan ditahan.

“Peluang dinaikkannya Fed Fund Rate (FFR) masih 50:50 atau belum dapat dipastikan secara lebih menyakinkan,” kata Guntur beberapa waktu lalu.

Apa lagi lanjut Guntur pertumbuhan ekonomi AS yang kembali melambat atau hanya tumbuh 1,5% di kuartal III 2015, atau terendah untuk kuartal III sejak 2013 menjadi salah satu indikasinya.

Turunnya laju pertumbuhan AS ini disebabkan oleh penyusutan ekspor yang terkena dampak pelemahan ekonomi global dan penguatan USD.

Selain itu, penurunan laju pertumbuhan juga disebabkan oleh menurunnya belanja pemerintah dan investasi pada proyek-proyek infrastruktur.

Di sisi lain, konsumsi masyarakat masih sangat kuat. Kepercayaan konsumen juga lebih tinggi pada tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan the Fed mempertimbangkan juga dampak risiko ekonomi global dalam pengambilan keputusannya, dan diperkirakan hingga akhir tahun tren melemahnya ekspor, perdagangan dan manufaktur AS, maka peluang dinaikkannya Fed Fund Rate belum dapat dipastikan secara lebih menyakinkan.

Bila FFR dinaikkan kata Guntur, dampak bagi Indonesia adalah terjadinya penarikan dana besar-besaran dari pasar keuangan sehingga menyebabkan pelemahan Rupiah dan turunnya harga-harga aset investasi, termasuk IHSG.

Selain itu juga, akan terjadi kenaikan volatilitas di pasar keuangan sehingga menyulitkan ekonomi dan pelaku bisnis untuk dapat mengandalkan pasar keuangan bagi perkembangan ekonomi yang positif tanpa kenaikan biaya yang tinggi.

Kondisi ini akan memberatkan ekonomi Indonesia, karena saat ini juga sedang berjuang untuk meningkatkan kualitas perekonomian, menaikkan kembali laju pertumbuham dan perdagangan internasional, di tengah lemahnya harga komoditas yang berkepanjangan.

“Tetapi ada baiknya kenaikan FFR bisa dipastikan, sehingga meskipun ekonomi kita akan mengalami tekanan yang cukup besar, tetapi kemudian ekonomi dapat pulih kembali,” kata Guntur.

Dampak kenaikan FFR yang lebih nyata lanjutnya akan lebih baik bagi ekonomi, karena kemudian program penguatan ekonomi dapat dilakukan secara lebih terarah.

Dibandingkan dampak dari ketidakpastian akan naiknya FFR, seperti saat ini, Rupiah dan IHSG sudah cenderung melemah meskipun belum terjadi.

Artinya kecenderungan pelemahan masih akan terus terjadi, seiring ketidakpastian naiknya FFR. (*)

Related Posts

News Update

Top News