Mengarungi Ketidakpastian dan Era Industri 4.0

Mengarungi Ketidakpastian dan Era Industri 4.0

Lima tahun sudah dunia usaha berusaha berlari di tengah tekanan ekonomi makro yang melemahkan gairah pasar. Bagaimana kinerja perusahaan go public yang masuk dalam 100 fastest growing companies atas kinerjanya dari 2013 hingga 2017? Apa tantangan perusahaan-perusahaan ke depan?

Oleh Karnoto Mohamad

DUNIA usaha masih harus mengencangkan ikat pinggang. Setelah mengarungi siklus ekonomi global yang lesu sejak 2014 hingga 2018, ketidakpastian masih mengadang. Ketidakpastian ekonomi global diprediksi berlanjut pada 2019, bahkan masalah geopolitik antarnegara maju sudah membebani pasar.

Isu-isu strategis di bidang ekonomi masih harus dihadapi, seperti fluktuasi nilai tukar, kenaikan suku bunga dan likuiditas yang ketat, serta kenaikan biaya-biaya. Misalnya, biaya tenaga kerja yang akan naik 8,03% atau sesuai dengan upah minimum provinsi (UMP) yang ditetapkan pemerintah pada 2019.

Demonstrasi para buruh yang menuntut kenaikan upah 25% bisa ditunggangi unsur-unsur politik pada tahun politik. Bagi pengusaha, upah naik 8,03% saja sudah berat ketika omzet sulit tumbuh, apalagi naik 25%. Dunia usaha pun telah mencermati revolusi industri 4.0, era di mana tenaga manusia bisa digantikan dengan robot.

Di Indonesia, sistem elektronik atau otomatisasi yang menggantikan peran manusia sudah terjadi, seperti di sektor perbankan, sistem pembayaran, dan ticketing. Di sektor manufaktur atau pertanian yang padat karya belum terjadi.

Di Inggris, robot sudah dikembangkan untuk digunakan di lahan pertanian. Di Jerman, robot telah digunakan di usaha peternakan, seperti sapi dan ayam. Bahkan, Adidas, produsen peralatan olahraga di negara itu, sudah menghasilkan sepatu buatan robot.

Setelah lebih dari 20 tahun membuka pabrik di Asia untuk mencari tenaga murah, kini Adidas mulai membuka speed factory di negara dengan upah tenaga kerja yang mahal sekalipun di era revolusi industri 4.0.

Selama ini, negara seperti Indonesia diincar perusahaan multinasional (multinational company) karena upah buruhnya yang kompetitif dan pasarnya yang besar dengan dukungan ekonomi yang stabil. Namun, pada era revolusi industi 4.0 harga buruh bisa menjadi tidak relevan bagi perusahaan multinasional karena produksi massal bisa dikerjakan dengan sistem robotik.

Perusahaan multinasional akan lebih memilih negara dengan daya saing (competitiveness) tinggi sekaligus pasarnya besar. Indeks daya saing dilihat dari 12 aspek. Jadi, bukan hanya karena upah buruh yang murah dan produktivitasnya yang tinggi, tapi juga ada faktor lain, di antaranya infrastruktur, perekonomian yang stabil, inovasi, serta adopsi teknologi.

Menurut Global Competitiveness Report 2018, posisi teratas masih diduduki negara-negara maju, seperti Amerika Serikat (AS), diikuti Singapura, Jerman, Swiss, dan Jepang. Indonesia yang naik dua peringkat masih berada di urutan ke-45, atau kalah dari Malaysia di urutan ke-25 dan Thailand di urutan ke-38.

Datangnya revolusi industri 4.0 berbarengan dengan kondisi ekonomi global yang diwarnai ketidakpastian. Empat tahun terakhir, pertumbuhan omzet perusahaan-perusahaan, baik yang berorientasi ekspor maupun pasar domestik, melambat.

Ketika pertumbuhan pendapatan perusahaan melambat, apalagi menurun, maka musuh utamanya adalah biaya operasional (overhead cost). Belum lagi masalah likuiditas yang terbatas dan cost of fund-nya meningkat. Depresiasi rupiah menambah tekanan berat bagi perusahaan yang memiliki pinjaman dolar AS (US$) maupun bahan bakunya impor. Di satu sisi, perusahaan-perusahaan harus mengeluarkan belanja modal (capital expenditure) yang diarahkan ke teknologi informasi untuk menyesuaikan diri dengan ekosistem bisnis yang sudah makin digital.

Di tengah tantangan yang begitu beragam, perusahaan-perusahaan berusaha untuk tetap survive dan mampu mengendalikan biaya ketika pendapatan tak sekencang masa sebelumnya. Begitu juga dari sisi perolehan laba yang terus tumbuh positif. Hal ini terlihat dari hasil kajian Biro Riset Infobank (birI) bertajuk “100 Fastest Growing Companies 2018”.

Biro Riset Infobank mengukur kinerja 566 perusahaan go public dan memilih 100 perusahaan yang secara konsisten selama lima tahun berturut-turut memiliki kinerja terbaik dari sejumlah aspek, seperti pertumbuhan, solvabilitas, efisiensi, dan rentabilitas.

Ternyata, perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori ini cukup beragam, baik dari sektor industri yang sedang tumbuh maupun sektor industri yang tengah menurun. (Lihat tabel: 100 Fastest Growing Companies 2018).
Kinerja emiten yang memerah juga tersebar di berbagai sektor. Jumlah emiten yang merugi mencapai ratusan, bahkan sebagian sudah mencatat kerugian beberapa tahun sebelumnya sampai ekuitasnya tergerus dan menjadi minus.

Perusahaan-perusahaan tersebut misalnya Bakrie Sumatera Plantations Tbk yang tahun lalu merugi Rp1,64 triliun dan ekuitasnya minus Rp468,44 miliar. Kemudian, Central Proteina Prima Tbk yang bergerak di sektor pakan ternak yang merugi Rp2,64 triliun dan ekuitasnya minus Rp1,78 triliun. Ada pula perusahaan garmen, seperti Asia Pacific Fibers Tbk yang merugi Rp59,81 miliar. Karena sudah lama merugi, maka ekuitasnya terus menjadi minus Rp12,79 triliun.Perusahaan emiten yang berhasil mempertahankan pertumbuhan dan mengendalikan biaya, labanya tetap tumbuh.

Perusahaan-perusahaan terbuka yang kinerja keuangannya moncer dan konsisten tumbuh dari tahun ke tahun, sahamnya pun menarik bagi investor dan akan menjadi likuid. Investor memiliki ekspektasi karena pencapaian kinerja dengan pertumbuhan yang konsisten akan terus meningkatkan valuasi saham perusahaan.

Harga saham memang bisa dipengaruhi oleh kondisi pasar modal maupun indeks saham di bursa global. Namun, performa yang konsisten merupakan faktor fundamental perusahaan dan indikator dari keberhasilan yang dilakukan manajemen dan implemen-tasi praktik good corporate governance (GCG) secara baik.

Perusahaan atau emiten yang berkinerja biru memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan pendanaan dari pasar modal, baik melalui obligasi maupun penerbitan saham baru (rights issue).

Berbeda dengan perusahaan tertutup, meskipun kinerjanya mencorong, tapi lebih banyak mengandalkan pinjaman perbankan saja. Perlu dicatat bahwa masalah korporasi di Indonesia lebih sering di likuiditas.

Ketika dunia usaha mau ekspansi, sasaran utama yang dituju adalah perbankan. Padahal, ketika perbankan mengucurkan kredit secara ekspansif, loan to deposit ratio (LDR) perbankan langsung mentok. Artinya, hampir semua dana masyarakat yang dihimpun disalurkan ke sektor riil sehingga likuiditas yang ada di perbankan pun mengetat.
Yang menjadi tantangan saat ini adalah kendati dunia usaha menahan ekspansi dan tidak menarik kredit, likuiditas di pasar berkurang karena kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan bank sentral AS dan beberapa negara maju. Belum lagi masalah persaingan ekonomi dan geopolitik negara-negara maju yang membuat ekonomi global menjadi tidak pasti.

Menurut prediksi para ekonom, ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih akan berlanjut sampai satu dua tahun mendatang. Pada 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi tak jauh berbeda dengan 2018, di kisaran 5,2%-5,3%. Dunia usaha masih harus mengetatkan ikat pinggang. Likuiditas cenderung mengetat dan cost of money meningkat karena kenaikan suku bunga dan fluktuasi kurs. Di luar faktor ekonomi makro, terjadi perubahan perilaku pasar karena dipicu oleh munculnya perusahaan-perusahaan rintisan yang mengakibat-kan disruptive technology. Perusahaan-perusahaan yang sudah lama berada di pasar harus mampu merespons berbagai dinamika tersebut. Ketika pasar sedang kurang bergairah, maka perusahaan dengan kemampuan berinovasi dan yang efisien yang bisa survive. Jika tidak mampu membaca tren perubahan pasar dan berinovasi, perusahaan bisa gagal berkompetisi dan kinerjanya tergerogoti biaya-biaya yang tak mudah ditekan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.