Meneropong Saham TUGU

Meneropong Saham TUGU

Jakarta – Saham anak usaha PT Pertamina Persero yakni PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) terus merangkak naik hingga meninggalkan level Rp3.000.

Perlahan tapi pasti, saham dengan kode emiten TUGU siang ini hingga sesi I, pukul 13:30 berakhir diperdagangkan di Rp3.200. Naik Rp20 dari harga perdagangan kemarin Rp3.180.

Berdasarkan data perdagangan saham Senin, 5 Agustus 2019, harga tersebut harga tertinggi per hari ini, dan memiliki Price Earning Ratio (PER) kurang dari 1 kali.

Dengan PER yang masih tergolong sangat rendah tersebut, potensi kenaikan saham TUGU jangka panjang terbuka lebar.

Seperti diketahui PER dikenal sebagai salah satu indikator terpenting di pasar modal. Definisi resminya kira-kira adalah suatu rasio yang menggambarkan bagaimana keuntungan perusahaan atau emiten saham (company’s earnings) terhadap harga sahamnya (stock price).

Artinya PER merupakan angka psikologis bagi value investor dimana PER yang kecil akan lebih menarik dibandingkan dengan PER tinggi. PER rendah ini disebabkan oleh laba per saham yang relatif tinggi dibandingkan dengan harga sahamnya, sehingga tingkat return-nya lebih baik dan payback period-nya lebih singkat lagi.

Sekedar informasi, bisnis TUGU tahun ini sedang bergairah. Selama semester I 2019, Tugu Insurance secara konsolidasi raih laba tahun berjalan sebesar Rp 238,15 miliar atau naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya rugi sebesar Rp 7,8 miliar.

Peningkatan itu sejalan dengan kenaikan pendapatan premi dan sejumlah perbaikan yang dilakukan perseroan dalam setahun terakhir.

Presiden Direktur Tugu Insurance Indra Baruna mengatakan, peningkatan kinerja tersebut dikontribusikan oleh induk perusahaan maupun anak perusahaan. Pada semester pertama 2019, perseroan meraih pendapatan premi bruto secara konsolidasi sebesar Rp 3,7 triliun, naik 49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,49 triliun.

Menurut Indra, induk perusahaan maupun anak perusahaan sama-sama memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan premi konsolidasi. Dari pendapatan premi sebesar itu, penerimaan premi bruto induk perusahaan tercatat sebesar Rp 2,2 triliun, naik 37% dibandingkan periode yang sama 2018 sebesar Rp 1,6 triliun.

“Hampir seluruh lini bisnis mengalami kenaikan baik di sektor energy, non-energy, commercial maupun retail business” ujar Indra. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.