Menakar Potensi Bisnis IPCC Pasca IPO

Menakar Potensi Bisnis IPCC Pasca IPO

Jakarta – PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) resmi merealisasikan pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) ‎di Bursa Efek Indonesia (BEI) pagi ini dengan melepas 509,14 juta saham di harga Rp1.640 per saham.

Pasca IPO ini, tentu tanggu jawab perusahaan terhadap pemegang saham lebih besar lagi. Mengingat investor menaruh harapan besar usai membeli saham perusahaan. Sukur-sukur selain mendapat imbal hasil dari nilai harga saham yang naik, investor bisa menyicipi dividen setiap tahun.

Melihat hal itu, bagaimana potensi bisnis IPCC kedepan? Tentu banyak investor berkeyakinan pasca IPO, Anak usaha Pelindo II, ini bisa lebih baik lagi dalam mendongkrak kinerjanya.

Direktur Utama IPCC, Chiefy Adi Kusmargono mengatakan, dari IPO, perusahaan sendiri akan meraup dana segar Rp835 miliar. Dana segar IPO setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan untuk belanja modal sebesar 50%. Kemudian, sebesar 25 persen untuk pembayaran kontrak sewa lahan jangka panjang di Jakarta Utara.

“Sisanya 25 persen untuk modal kerja‎,” kata Chiefy, ditemui di BEI, Jakarta, Senin, 9 Juli 2018.

Dengan prosentase penggunaan dana tersebut, tentu perusahaan punya peluang besar untuk menumbuhkan bisnis di 2018.

Seperti diketahui, bisnis IPCC memberikan jasa pelayanan terminal kendaraan meliputi Stevedoring, Cargodoring, Receiving, dan Delivery. Perseroan juga melayani pelayanan jasa lainnya, yaitu Vehicle Processing Center (VPC), Equipment Processing Center (EPC), Port Stock dan Transhipment Roro Services.

Baca juga: Masuk Bursa, Saham IPCC, BPTR dan RISE Melonjak Tajam

IPCC tidak hanya menyediakan jasa terminal untuk mobil, tapi juga untuk alat berat, truk, bus, dan suku cadang. Selain itu perusahaan memiliki beberapa keunggulan, di antaranya menjadi satu-satunya perusahaan pengelola terminal komersial yang memberikan jasa pelayanan terminal kendaraan di negara terpadat ke-4 di dunia. Perseroan memiliki 100 persen captive market untuk ekspor-impor kendaraan, dan margin bisnis menarik.

“Ke depan, IPCC memiliki pasar yang akan berkembang pesat. Ini didukung oleh basis klien yang solid, penguasaan lahan yang terjamin dan ekspansi yang terencana dengan baik, serta tim manajemen yang sangat berpengalaman,” tandasnya.

Saat ini IPCC mengelola lahan seluas 31 hektar dengan kapasitas 700.000 unit kendaraan per tahun.

Sesuai rencana, pada 2022, IPCC menargetkan lahan seluas 89,5 hektar dengan kapasitas 2,1 juta kendaraan. Dengan demikian, Perusahaan diproyeksikan menjadi pengelola terminal mobil terbesar ke-5 di dunia.

Sekedar informasi, pada 2017, IPCC membukukan pendapatan sebesar Rp422,1 miliar, meningkat dibandingkan 2016 yang sebesar Rp314,3 miliar. EBITDA naik menjadi Rp175,4 miliar dari Rp133,4 miliar. Laba kotor naik menjadi Rp208,6 miliar dari Rp164,5 miliar, dan laba bersih melonjak menjadi Rp130,1 miliar dari Rp98,4 miliar.

Adapun total aset per akhir 2017 mencapai Rp336,3 miliar, meningkat dibandingkan 2016 yang sebesar Rp264,9 miliar. Liabilitas naik menjadi Rp99,2 miliar dari Rp79,3 miliar dan ekuitas meningkat menjadi Rp237 miliar dari Rp185,6 miliar dan current ratio sebesar 3,3 kali, naik dari 2,4 kali. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.