Keistimewaan Tubuh

Keistimewaan Tubuh

Oleh Awaldi

Penulis adalah Direktur Operasional Bank Muamalat Indonesia, pengamat pengelolaan SDM, penulis buku berjudul Karyawan Galau Nasabah Selingkuh.

SEHABIS golf week-end di awal Mei kemaren, saya duduk berdua dengan teman saya yang panggilannya BJ di restoran punyanya club house. Golf di week-end pagi itu terasa rileks dan nyaman karena udaranya yang sejuk mendukung. Permainan juga terjaga fokus dan konsentrasi sehingga dapat dinikmati dengan enak. Kami ngobrol berdua setelah puas bermain golf, duduk di restoran memesan sop buntut sapi yang terkenal top di tempat itu. Kami ngobrol ngalor-ngidul, dan akhirnya asyik membicarakan topik yang sedikit berbau spritual. Maklum waktunya pas sehari menjelang puasa.

Saya memulainya dengan menyampaikan bahwa golf adalah “spritual sport”. Temen saya BJ langsung menukas, “kamu ini jangan mengada-ngada ya, bagaimana kok bisa disebut olahraga spritual?”. “Gini”, saya mulai meyakinkannya dengan kata-kata influencer, “dalam permainan golf semua unsur komponen tubuh kita diaktivasi dan terkoneksi dengan sumber utamanya, yaitu bumi dan alam semesta ini”.

Unsur pembentuk tubuh kita terdiri dari tanah, air, api dan udara. Empat unsur ini bersatu menjadi bagian dari jasmani. Tubuh terdiri dari benda padat yang merupakan unsur tanah, yang kelak pada waktu kita meninggal akan kembali bersatu dengan bumi. Tubuh juga terdiri dari air, yang merupakan unsur paling banyak, bahkan lebih dari 70% komposisi tubuh kita mengandung air. Ada unsur api atau panas juga dalam tubuh yang bisa dirasakan secara fisik maupun yang diimplementasikan dalam bentuk nafsu marah dan angkara murka. Dan terakhir unsur udara, yang tanpanya kita tidak bisa menghirup dan mengeluarkan nafas. Itulah empat unsur utama pembentuk tubuh jasmani.

“Lalu apa hubungannya empat unsur itu dengan olahraga golf?”, BJ bertanya sambil menggaruk-garuk kepalanya walau tidak gatal. Saya bilang, “keempat unsur itu mendapatkan kesempatan refreshed ketika kita berjalan dan memukul bola di lapangan golf yang serba hijau dan indah”. Keempat unsur yang ada dalam tubuh kita tersebut membutuhkan aktivasi, pembaharuan, refreshement, flowing dengan unsur yang sama di bumi; melalui olahraga golf pertukaran unsur dalam diri kita dengan yang ada di alam terjadi secara otomatis.

Saya menjelaskan kepada BJ bahwa dengan golf kita punya kesempatan untuk berjalan menyentuh tanah, rumput dan tumbuh-tumbuhan yang terhampar luas di depan mata. Embun pagi membuat kita dapat merasakan keberadaan air yang lembut, ditambah dengan pemandangan kolam dan danau di sekeliling yang sekali-sekali bisa untuk mencuci tangan maupun kaki. Udara pagi yang segar memberikan kita kesempatan bertukar udara dalam tubuh yang sudah apek dengan udara segar di luar. Dan matahari sebagai sumber api menyentuh pori-pori dan menghangatkan tubuh sebagai sumber energi tenaga.

Mendengarkan kuliah saya itu, BJ hanya mengangguk-angguk saja. Entah mengerti atau pura-pura mengerti. Saya meneruskan, “tentu kesempatan untuk kita terkoneksi dan memperbaharui keempat unsur dalam tubuh bukan hanya melalui permainan golf”. Itu hanya salah satunya; golf adalah olahraga yang memiliki kemungkinan selain bermain sekaligus juga untuk memperbaharui unsur-unsur tubuh.

Cara lain tentu banyak, apapun itu sepanjang terjadinya hubungan langsung dan menyentuh unsur-unsur bumi yang terbuat dari komponen yang sama dengan unsur tubuh kita. Apa saja kegiatannya, asalkan bersentuhan langsung dengan bumi dan tanah.

BJ matanya berkedip, kelihatan mulai makin tertarik. Saya pun rasanya tambah semangat menjelaskan tentang penting dan juga gampangnya kita mengolah dan memperbaharui unsur-unsur tubuh. Saya bilang, “malah bulan puasa ini juga makin memberikan kita kesempatan untuk aktivasi unsur-unsur dalam tubuh itu”. Sehabis sahur, banyak di antara kita yang punya kebiasaan sholat shubuh di mesjid.

Berjalan kaki menuju mesjid memberikan kesempatan menginjakkan kaki di bumi, yang selama ini jarang kita lakukan karena seharian berada di kantor, dan pulang pergi ke kantor tinggal turun naik dari kendaraan. Selain menginjak tanah, kita pun berkesempatan menghirup udara pagi yang bersih mengisi relung paru-paru menggantikan udara yang sudah lama terpendam di dalam.

Pada waktu week-end Sabtu Minggu kita pun sering pulang dari pengajian di mesjid setelah matahari naik tinggi menyinari bumi. Kita sempat disiramin oleh apinya matahari, yang kita butuhkan sebagai sumber energi dan menyalakan api yang kita miliki dalam tubuh.

Di bulan puasa kita berkesempatan mengatur dengan lebih baik “tanah” yang kita masukkan dalam tubuh. Siang hari terdapat interval 12 jam sebelum kita berbuka. Kesempatan yang luar biasa bagi tubuh untuk mencerna “bumi dan tanah” (makanan-makanan) yang kita masukkan dalam tubuh.

Selama ini kita makan setiap 5-6 jam sekali, bahkan sering di antaranya juga masih ngemil. Kalau yang kita makan adalah “makhluk hidup sederhana” seperti tumbuh-tumbuhan dan ikan, mungkin tak apa-apa kalau interval makannya setiap 5-6 jam.

Akan tetapi kebanyakan kita mengkonsumsi “makhluk hidup yang lebih complicated” seperti daging ayam, sapi dan kambing. Bahan-bahan itu memerlukan proses pencernaan lebih dari 12 jam. Mestinya kita tidak mengisi perut lagi selepas memakan makanan yang berat karena sedang diproses oleh tubuh. Itu tidak terjadi di hari biasa, akan tetapi di bulan ramadhan kita melakukannya secara proper, dengan interval makan mencapai 12 jam-an.

BJ hanya mengangguk-ngangguk sambil menghabiskan daging sop buntutnya yang terakhir. Saya meneruskan, “walapun tubuh dan jasmani adalah sisi berbeda dari rohani, akan tetapi melalui jasmani yang selalu teraktivasi, terbaharui dan terkoneksi dengan unsur-unsurnya yang terdapat di alam, kita mempunyai kesempatan untuk mengakses sisi rohani dan spritual dengan lebih gampang”.

Saya menyeruput kuah sop yang tersisa, sambil memandang ke arah BJ menutup obrolan di club house golf hari itu, “jadi bung bulan puasa memberikan kita kesempatan untuk melakukan aktivasi atas unsur unsur tubuh, yang dengan begitu memungkinkan kita untuk mengakses dimensi spritual, dimensi rohani, dimensi dimana diri kita yang sebenarnya berada”.

Itulah keistimewaan tubuh. Tubuh yang terbaharui memiliki kemampuan memberikan kita kesempatan yang lebih mudah untuk menggapai unsur cahaya, unsur spritual dalam diri, unsur yang memberikan kita ketenangan, kenyamanan dan kedamaian dalam hidup. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.