Inilah Enam Isu Strategis Perbankan Pasca-Pilpres

Inilah Enam Isu Strategis Perbankan Pasca-Pilpres

Oleh Eko B. Supriyanto

TAHUN 2018 lalu industri perbankan tumbuh sedikit “ngebut” dengan meninggalkan kemampuan menjaring dana pihak ketiga (DPK). Kredit tumbuh berkisar 12%-13%, sementara dana hanya tumbuh sekitar 8%-9%. Bank-bank besar pun mulai merasa mentok dalam menyalurkan kredit pada 2019. Itu berdampak pada kenaikan loan to deposit ratio (LDR) yang sudah di atas 92%.

Nah, akibat posisi LDR yang sudah tinggi, bank-bank besar (BUKU 4 dan BUKU 3) pun akan mencari likuiditas untuk tetap bisa berekspansi kredit. Suku bunga dikerek tinggi-tinggi agar likuiditas tetap terjaga di brankas bank-bank besar. Akibatnya bank-bank BUKU 2 dan BUKU 1 makin berat dan pada akhirnya akan terjadi kristalisasi.

Tahun 2019 merupakan tahun politik. Siapa pun presidennya yang terpilih, terkait dengan perkembangan bank-bank di Indonesia, menurut catatan Infobank Institute, setidaknya ada enam isu strategis yang akan tetap ada. Hal terpenting adalah bagaimana kondisi global. Jika The Fed tetap akan menaikkan suku bunga, maka likuiditas dalam negeri pun tetap ketat.

Inilah enam isu strategis yang dimaksud. Satu, likuiditas dan persaingan DPK antarbank makin ketat, yang ditandai dengan suku bunga tinggi. Dua, mismatch likuiditas—kredit jangka panjang dibiayai dengan kredit jangka pendek. Kredit infrastruktur dibiayai dengan dana jangka pendek sehingga rawan guncangan.

Tiga, penurunan net interest margin (NIM) akibat mahalnya cost of funds dan biaya operasional. Empat, perebutan DPK akan berpengaruh pada cost of credit dan sudah tentu akan meningkatkan risiko kredit. Angka non performing loan (NPL) memang sudah di bawah 2,9%, tapi loan at risk masih di atas 10%-12%.

Lima, penerapan PSAK 71 yang akan memperbesar cadangan risiko atau diperkirakan akan menurunkan capital adequacy ratio (CAR) berkisar 2%-3%. Enam, disruption perbankan. Bank-bank akan terus bersaing dengan nonperbankan, meski volume peer to peer lending masih kecil atau belum 1% dari total kredit perbankan. Namun, dari sisi payment, seperti pembelian pulsa, jujur bank-bank besar terkena efek financial technology (fintech).

Enam isu strategis itu makin terasa jika terjadi gejolak global, seperti penurunan harga komoditas dan kenaikan suku bunga The Fed. Jika demikian halnya, maka langkah yang ditempuh tidak perlu melakukan ekspansi yang membabi buta. Ekspansi hanya dilakukan jika pertumbuhan dana terjaga dengan baik. Tanpa likuiditas yang cukup, ekspansi atas dorongan nafsu mengejar NIM akan berakibat fatal karena risiko kredit masih tetap tinggi.

Jika demikian halnya, ekspansi kredit akan sedikit tertahan dan tidak akan secepat 2018, tapi akan berada pada angka tahun 2017 yang sekitar 8%-9%. Ekspansi kredit tergantung pada ketersediaan likuiditas perbankan dan bukan pada soal tahun politik atau tidak. Bahwa setelah pilpres satu kepastian politik memang ada, tapi faktor paling krusial bagi perbankan adalah soal likuiditas—yang dipengaruhi di dalam perbankan sendiri dan faktor global. Faktor global lebih menjadi perhitungan penting ketimbang soal copras-capres, meski masa kampanye dinilai terlalu lama. Bayangkan, selama delapan bulan dipenuhi kebisingan udara dengan medsos—yang terkadang penuh hoaks.

Infobank Institute menilai, enam isu strategis tersebut akan terus ada, siapa pun presiden terpilih. Bank-bank BUKU 3 dan BUKU 4 masih tetap akan diuntungkan dengan struktur dan kebijakan perbankan sekarang ini. Jadi, tetap harus hati-hati menyangkut likuiditas yang menjadi darah perbankan. Bank mana pun itu, masalah DPK makin sulit didapat karena persaingan berebut dana juga datang dari pasar modal dan obligasi negara yang bikin setengah pusing bankir.

Penulis adalah Pimpinan Redaksi InfoBank

Leave a Reply

Your email address will not be published.