Fed Fund Rate Tetap, Frekuensi Kenaikan Turun

Fed Fund Rate Tetap, Frekuensi Kenaikan Turun
oleh Agung Galih Satwiko

PASAR saham umumnya mengalami rebound (buy on weakness) kecuali pasar saham AS yang melemah karena persepsi ekonomi AS yang tidak cukup kuat pasca-keputusan the Fed yang tidak jadi menaikkan Fed Fund rate. Indeks Nikkei Jepang naik 0,4% dan Hang Seng Hongkong naik 0,9%. Di Eropa, DAX Index Jerman naik 0,9% sementara S&P 500 di AS turun 0,2%.

Pelaku pasar menantikan hasil rapat BOJ hari ini. BOJ diperkirakan akan mengalami kesulitan dalam menentukan apakah perlu tambahan stimulus atau tidak. Nilai tukar Yen yang menguat saat ini sejatinya memerlukan bantuan dalam bentuk stimulus moneter. Demikian juga dengan inflasi yang tercatat minus 0,3% (deflasi) di bulan April. Namun BOJ tentu juga melihat timing-nya tidak tepat karena menjelang referendum UK. BOJ perlu mempersiapkan amunisi sekiranya hasil referendum mendukung UK untuk keluar dari EU.

Ekspor Negara zona Eropa bulan April naik 4,9% dibanding bulan sebelumnya, sementara impor naik 2,6%. Sebelumnya ECB mengkhawatirkan pelambatan ekonomi di China, Rusia dan Negara berkembang lainnya akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan ekspor Eurozone. Namun jika data trade balance bulan April yang positif juga terjadi di bulan-bulan berikutnya, maka kekhawatiran tersebut akan mereda.

The Fed tadi malam memutuskan untuk tidak menaikkan tingkat bunga Fed Fund rate dan memberi sinyal bahwa The Fed akan mengambil langkah yang lebih lambat dalam menaikkan tingkat bunga Fed Fund rate di tengah pasar tenaga kerja AS dan investasi yang melambat. Pada konferensi pers, Yellen menyakini ekonomi AS secara fundamental tetap kuat. Meskipun demikian the Fed menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS menjadi 2% dari 2,2% untuk tahun 2016.

Faktor risiko eksternal yaitu hasil referendum UK minggu depan turut mempengaruhi keputusan the Fed tidak menaikkan Fed Fund rate. Di samping itu outlook ekonomi global juga membuat the Fed harus mengambil langkah hati-hati terhadap kebijakan yang akan diambilnya. Enam dari 17 anggota the Fed memperkirakan kenaikan tingkat bunga hanya akan terjadi satu kali lagi tahun ini, naik dari hanya satu anggota yang memperkirakan satu kali kenaikan tingkat bunga sebelumnya. Dalam jangka panjang Fed Fund rate diproyeksikan di level 3%, turun dari proyeksi sebelumnya yaitu sebesar 3,3% (saat ini antara 0,25% – 0,50%).

Harga minyak dunia melanjutkan penurunan jelang referendum UK. Turunnya nilai USD pasca tidak jadi dinaikkannya Fed Fund rate tidak mampu mendorong kenaikan harga minyak. Harga minyak WTI crude untuk pengiriman Juli turun USD0,5 (1%) menjadi USD48,0 per barrel. Sementara Brent Crude untuk pengiriman Agustus turun USD0,9 (1,7%) ke level USD49,0 per barrel. American Petroleum Institute melaporkan kenaikan cadangan minyak AS sebesar 1,2 juta barrel akhir minggu lalu.

Yield UST turun setelah the Fed memutuskan tidak menaikkan tingkat bunga Fed Fund rate. Yield UST 10 tahun turun 2 bps ke level 1,59% level terendah sejak Nov 2012. Sementara yield UST 30 tahun turun 3 bps ke level 2,40%. Sementara di Jerman, German bund tenor 10 tahun turun 1 bps ke level minus 0,01%.

Pasar SUN kemarin ditutup stabil. Yield SUN tenor 10 tahun turun 1 bps ke level 7,64% (ytd turun 110 bps, akhir tahun lalu 8,74%). IHSG ditutup turun 7 poin (0,1%) ke level 4.814 (ytd 4,8%, akhir tahun sebesar 4.593). Investor asing membukukan net sell sebesar Rp235 miliar, sehingga year to date investor asing membukukan net buy sebesar Rp6,6 triliun. Sementara itu, nilai tukar Rupiah ditutup menguat Rp38 menjadi Rp13.355/USD. NDF 1 bulan ditutup menguat Rp31 ke level Rp13.407/USD. CDS 5 tahun turun 3 bps (persepsi risiko turun) ke level 199 bps. CDS Indonesia 5 tahun telah turun 31 bps sejak akhir tahun lalu yang tercatat sebesar 230 bps. (*)

Penulis adalah staf Wakil Ketua DK OJK

Leave a Reply

Your email address will not be published.