Rating 599 BPR: “BPR Raksasa Survive di Kota Besar”

Rating 599 BPR: “BPR Raksasa Survive di Kota Besar”

Kinerja bank perkreditan rakyat beraset gemuk di kota-kota besar ternyata bisa bersaing dengan bank umum, yang nota bene memiliki produk dan layanan lebih lengkap. Paulus Yoga

Jakarta–“Rating 599 BPR versi InfoBank 2015” yang dilakukan Biro Riset Infobank (birI) memunculkan fakta menarik bank perkreditan rakyat (BPR) dilihat dari sisi asetnya. Dari sembilan BPR “raksasa” atau beraset Rp1 triliun ke atas, mayoritas beroperasional di kota-kota besar, baik di Jawa maupun di luar Jawa.

Kesembilan BPR beraset tambun itu adalah BPR Eka Bumi Artha dari Metro (Lampung) dengan aset Rp5,39 triliun, BPR Karyajatnika Sadaya (KS) dari Bandung beraset Rp4,44 triliun, BPR Sri Artha Lestari dari Denpasar dengan aset Rp2,56 triliun, Bank BPR Jatim dari Surabaya beraset Rp1,85 miliar, BPR Modern Express dari Ambon dengan aset Rp1,14 triliun, BPR Palu Lokadana Utama dari Palu dengan aset Rp1,34 triliun, BPR Surya Yudhakencana dari Banjarnegara dengan aset Rp1,04 triliun, BPR Utomo Manunggal Sejahtera Lampung dari Bandar Lampung dengan aset Rp1,03 triliun, dan BPR Hasa Mitra dari Makassar dengan aset Rp1,02 triliun.

Di sembilan kota tersebut BPR-BPR ini bisa berkembang dan memiliki kinerja sangat bagus. Padahal, di kota-kota tersebut, bank-bank umum dan bank pembangunan daerah (BPD) juga tak sedikit jumlahnya. “Artinya, bank perkreditan rakyat tetap bisa survive meski berhadapan langsung dengan bank-bank umum yang memiliki aset lebih besar dari mereka,” ujar Eko B. Supriyanto, Direktur Biro Riset Infobank di Jakarta, Kamis, 9 Juli 2015.

Tak sekadar besar asetnya. Aset kesembilan BPR tersebut juga tumbuh positif meski perkonomian sedang tidak kondusif. Rata-rata pertumbuhan aset mereka di atas pertumbuhan aset industri perbankan nasional. “Market masih memberi ruang bagi BPR untuk berkompetisi. Kunci sukses BPR lebih bagaimana menjaga tata kelola perusahaan dengan baik, karena semua BPR yang mati karena salah kelola, bukan karena kompetisi,” ujar Eko B. Supriyanto.

Selain itu, kata Eko, BPR harus tetap waspada, jangan pernah berhenti meningkatkan kualitas SDM (sumber daya manusia). “Dan, wajib efisien, karena sebentar lagi agen-agen bank akan menyerbu daerah dengan Laku Pandai-nya,” tambahnya.

Rating BPR Versi Infobank tahun ini merating 599 BPR beraset Rp50 miliar ke atas. Dari hasil rating tersebut, 433 BPR berhasil meraih predikat Sangat Bagus, 108 BPR berpredikat Bagus, 25 BPR berpredikat Cukup Bagus, 32 BPR berpredikat Tidak Bagus, dan 1 BPR tereliminasi.

Pendekatan yang digunakan Biro Riset Infobank untuk rating BPR ini adalah rasio keuangan penting dan pertumbuhan usaha. Bahan bakunya adalah laporan keuangan BPR tahun buku 2013 dan 2014. BPR yang hanya mengeluarkan laporan keuangan selain per Desember 2014 tak diikutsertakan dalam rating, meski asetnya triliunan rupiah.

Dibanding tahun sebelumnya, jumlah BPR yang di-rating tahun ini lebih banyak. Tahun lalu, BPR yang di-rating sebanyak 547 BPR, dengan 367 BPR yang berhasil meraih predikat Sangat Bagus. Secara jumlah dan kualitas, BPR tahun ini lebih banyak dan lebih baik kinerjanya.

“Tahun ini, tantangan BPR adalah bagaimana menahan agar NPL tidak terkerek sambil memanfaatkan mulai longarnya likuiditas untuk meningkatkan aset produktifnya,” tandas Eko B. Supriyanto. (*)

@bangbulus

Leave a Reply

Your email address will not be published.