Bersama Menggapai Mimpi di Sentra Binaan BTPN Syariah

Bersama Menggapai Mimpi di Sentra Binaan BTPN Syariah

Surabaya — PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN Syariah) mengklaim siap mendukung keluarga prasejahtera untuk mentas. Lewat pembiayaan dan pembinaan di sentra-sentra kelolaan perseroan, mimpi-mimpi para perempuan tetap dijaga tetap membara. 

Business Coach Area Jawa Timur BTPN Syariah, A. Andy Leon A mengatakan, bahwa pihaknya memiliki 750 ribu nasabah pembiayaan dengan total outstanding senilai Rp1,7 triliun per Agustus 2019. “Pertumbuhan sebulan sekitar 5.000 nasabah,” tukasnya di Surabaya, 25 September 2019. 

Secara total, pembiayaan BTPN Syariah di seluruh Indonesia menggapai 3,6 juta nasabah dengan total outstanding Rp8,5 triliun dan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) di level 1,3 persen per Juni 2019.

Dalam mendukung pengembangan masyarakat prasejahtera, khususnya kaum perempuan yang menjadi target bisnis, perseroan mengandalkan community officer (CO) sebagai ujung tombak yang bertugas mencari dan mengelola sentra-sentra komunitas di daerah terluar, terdepan, tertinggal (3T). 

“Total pegawai BTPN Syariah ada 12.000 orang. Di mana 9.000 di antaranya adalah CO,” imbuh Leon. 

Community Officer MMS Bulak BTPN Syariah, Robiatul Andawiyah menjelaskan, bahwa pihaknya berupaya merangkul perkumpulan ibu-ibu di daerah 3T dan mendorong mereka membentuk sentra komunitas. Gampang-gampang susah seperti main gamewatch, gampang secara teori saat pembekalan, namun sulit saat dijalankan di lapangan. 

“Awal bergabung BTPN Syariah tahun 2013, harus jalan kaki mencari calon nasabah. Sampai menangis karena sudah 2 minggu belum dapat nasabah (sentra komunitas),” kenang Ibu lulusan SMA yang saat ini tengah melanjutkan studi perguruan tinggi dari dana beasiswa BTPN Syariah. 

Siraman cahaya lampu di salah satu restoran di bilangan Jln. Jenderal Basuki Rakhmat, Surabaya, Jawa Timur menerangi senyum di wajahnya ketika melanjutkan kisah dan menyebut nama nasabah pertamanya yang bernama Kusmiyati. Saat ini, Robiatul mengelola 39 sentra dengan rerata beranggotakan 12 orang.

Lewat ibu-ibu di sentra komunitas inilah, Robiatul mampu menggapai mimpi yang bahkan belum sempat dibayangkannya untuk bekerja di bank. “Dulu pas tes rekrutmen itu saya cuma pakai kaos dan sempat minder karena hanya lulusan SMA, sementara yang lain rapih-rapih dan banyak lulusan S1. Enggak nyangka ternyata saya malah diterima, malah yang S1 banyak yang gagal,” aku perempuan berusia 27 tahun asal Bangkalan, Madura ini. 

Setali tiga uang, Business Manager MMS Taman BTPN Syariah, Yulia Kartikaningrum mengaku bersyukur bisa bergabung dengan bank yang resmi menjadi bank umum syariah pada 2014 ini. “Dulu waktu sempat kerja di Jakarta setahun lamanya, itu penghasilan lebih besar tapi rasanya tidak cukup. Sekarang setelah di BTPN Syariah, dengan UMR Jawa Timur lebih rendah dari Jakarta alhamdulillah malah bisa nabung,” tuturnya yang saat ini membawahi 2 wisma (mobile marketing sharia/MMS) yang berisikan 1 senior CO dan 11 CO.

Dari 2 wisma di Taman dan Sukodono (Sidoarjo, Jawa Timur) yang dikelolanya, BTPN Syariah memiliki sekitar 3.200 nasabah dengan rerata pembiayaan per orang sebesar Rp9 juta. “Pinjaman kan mulai Rp2 juta (untuk nasabah baru) sampai paling besar Rp30 juta,” ungkap perempuan yang bergabung dengan para Bankir Pemberdaya sejak 2015 itu.

Dia menjelaskan, bahwa untuk menjadi nasabah pembiayaan BTPN Syariah Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama adalah alamat KTP sesuai domisili atau populer disebut akamsi. Syarat kedua adalah lingkungan rumah di mana rekening koran air dan listrik sesuai KTP calon nasabah. Ketiga, calon nasabah juga harus memiliki usaha. Keempat, ada izin dari suami atau orang tua bagi yang belum menikah. Kelima dan yang paling krusial adalah ada persetujuan dari kelompok atau komunitas di sentranya. 

“Di sentra kita juga tekankan prinsip BDKS, berani, disiplin, kerja keras dan solidaritas. Tapi untuk syarat ketiga kalau belum ada usaha kita lihat mimpinya, usahanya mau apa?” sambung Yulia. 

Business Coach BTPN Syariah, A. Andy Leon A mendampingi Nur Hidayah, nasabah dan anggota sentra binaan BTPN Syariah di Gresik (25/9).

Mimpi-mimpi yang terus dirajut dan dituai di dalam tiap-tiap sentra inilah yang menjadi motor dan mesin para perempuan prasejahtera yang dibiayai BTPN Syariah untuk terus maju. Seperti yang disampaikan oleh Nur Hidayah, yang sejak SMA sudah membantu dan belajar menjalankan usaha konveksi tas dari Ayahanda tercinta. “Usaha (konveksi tas) dapat ilmunya dari Bapak. Nah ini saya kepingin mandiri (untuk usaha) juga,” ucap Ibu tiga anak ini kala dijumpai di rumahnya di Gresik, Jawa Timur. 

Sejak bergabung di sentra binaan BTPN Syariah, Nur Hidayah merasakan usaha konveksi tasnya mengalami kemajuan cukup pesat. “6 tahun lalu ketemu BTPN dibiayai dapat Rp2 juta. Tahun kedua (dibiayai) bisa dapat 1 pekerja. Sekarang alhamdulillah sudah punya 8 karyawan,” ujar lulusan D2 yang merasa usaha konveksi tas merupakan panggilan jiwanya ketimbang harus bekerja di perusahaan orang lain. 

Saat ini, Nur Hidayah mampu menghasilkan 50 lusin tas dalam tempo 3 hari dengan rentang harga eceran Rp15 ribu hingga Rp120 ribu sesuai pesanan, dan memasok 4 toko di Pusat Grosir Surabaya. Dengan plafon pembiayaan yang terus meningkat hingga Rp18 juta saat ini, ia mengaku ingin terus maju. “Saya tambah plafon karena saya punya mimpi yang lebih lagi. Ada usaha suvenir-suvenir juga, sudah mulai dijalani,” imbuhnya. 

Dari sentra komunitas binaan BTPN Syariah setiap mimpi terus dipupuk dan dikembangkan. Di Pertemuan Rutin Sentra (PRS) yang digelar saban 2 mingguan ini pula, Nur Hidayah bisa bertukar ide dan informasi untuk terus mengembangkan usaha bersama anggota sentranya.

Pembekalan pengelolaan keuangan menjadi salah satu hal yang wajib diingatnya, bagaimana setiap pengeluaran ditempatkan dalam 5 amplop warna-warni. “Ada amplop warna kuning itu untuk membayar angsuran, dan hijau untuk menabung. Itu berapa saja tabungan saya bawa diterima oleh Mbak Yanti (CO BTPN Syariah yang mendampinginya),” kisahnya di tengah tumpukan bahan dan pola tas di ruang tamu rumahnya. 

Seperti juga yang dialami Poniyem, yang merupakan salah satu Ketua Sentra binaan BTPN Syariah, di mana ia berusaha semaksimal mungkin menjaga sentranya agar tetap solid. Mengingat pencairan plafon pembiayaan dari BTPN Syariah hanya dapat dilakukan melalui sentra dengan persetujuan dari seluruh anggota. 

Demi mendisiplinkan anggotanya, Bu Yem sebagaimana ia akrab dipanggil bahkan berembuk untuk menetapkan sistem denda bila ada anggota yang tidak menghadiri PRS. “Ada denda kalau enggak datang, kena denda Rp5.000. Kalau telat itu dihitung berapa jam telatnya,” ucapnya. 

Saat ini, anggota sentra Bu Yem mencapai 19 orang. Adapun  untuk proses menjadi anggota tidak semudah membalikkan telapak tangan, hanya karena si calon kenalan atau bawaan anggota lain. “Saya lihat dulu. Tapi kalau saya lihat terus enggak percaya, misal suaminya enggak kerja saya enggak berani (menjadikan calon anggota sentra). Karena itu nanti kan modelnya tanggung renteng (ditalangi anggota lain bila ada anggota yang belum bisa mengangsur),” tegasnya. 

Bu Yem bergabung dengan sentra binaan BTPN Syariah sejak 2013 untuk mendukung usaha produksi kopiah (songkok) milik suaminya, yang kebetulan penyandang disabilitas tapi memiliki tekad untuk terus berkarya. Alhamdulillah, sejak bergabung, usahanya terus berkembang. “Pendapatan naik karena dari modal kan dapatnya Naik,” tukas Ibu tiga anak itu. 

Dari sebelumnya hanya menjadi pekerja upah untuk pembuatan songkok, sekarang produksi songkok yang dilabeli merek Wahana hasil karya suaminya bisa mencapai 45 kodi dalam sebulan. Sekodi harganya dibandrol di kisaran Rp500 ribu sampai Rp600 ribu tergantung model. Sedangkan kalau dijual eceran harganya Rp35 ribu. Sepanjang menjadi nasabah BTPN Syariah, Bu Yem telah melakukan 5 kali pencairan dengan total pembiayaan mencapai Rp42 juta. “Sekarang saya ambil Rp11 juta, tapi anggota beda-beda (besaran pembiayaannya). Saya paling besar,” ujar perempuan berusia 46 tahun itu. 

Nur Hidayah dan Poniyem merupakan contoh dua perempuan dari keluarga prasejahtera yang tak menyerah dengan keadaan. Keduanya dinilai mampu memberikan inspirasi terhadap perempuan-perempuan lainnya untuk terus maju. 

Melalui rekomendasi, Nurhidayah bahkan bisa meraih mimpi untuk menunaikan ibadah umroh. Dirinya tidak menyangka mendapatkan apresiasi demikian besar, dan bisa tergabung dalam 300 nasabah yang akan diberangkatkan ibadah. Hal tersebut membuat kecintaannya terhadap BTPN Syariah semakin lekat. “Ya selama saya ada, BTPN ada,” katanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.