Gradana Ekspansi ke Surabaya

Gradana Ekspansi ke Surabaya

Jakarta – Pasar properti kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya dan Medan masih menunjukkan tren yang sama. Permintaan semakin meningkat seiring pertumbuhan populasi, namun karena adanya keterbatasan lahan harga masih dianggap terlalu tinggi bagi konsumen untuk membeli.

Sementara bagi investor, harga masih belum banyak berubah ke depan sehingga masih menjadi sesuatu yang cukup menantang bagi para pengembang karena pertumbuhan harganya yang relatif tinggi.

Meski demikian, menurut pengamat properti Anton Sitorus, terdapat segmen pasar yang cukup gemuk yang bisa digarap oleh para pengembang, yaitu segmen milenial yang berkisar antara 21 hingga 30 tahun. Menurut peneliti dari perusahaan riset properti global Savills tersebut, milenial menjadi pasar properti yang cukup prospektif meski preferensinya dalam memilih properti bisa beda-beda.

“Dulu orang ingin beli rumah karena memang butuh, ingin memiliki, sedangkan saat ini milenial tidak selalu ingin memiliki rumah. Mereka hanya butuh tempat tinggal, tidak mesti membeli tapi bisa dengan menyewa, yang penting adalah kebutuhan akan tempat tinggal terpenuhi. Ini yang harus diantisipasi oleh pengembang,” tuturnya saat dihubungi di Jakarta, Rabu, 12 Febuari 2020.

Secara umum, tambahnya, segmen milenial untuk produk properti memang sangat besar, termasuk juga di Surabaya. Pilihan lokasi menjadi prioritas utama generasi ini saat memilih hunian untuk tempat tinggal.

“Mereka cenderung pada lokasi residensial yang dekat dengan tempat kerja, fasilitas umum, pusat keramaian. Profil milenial seperti mereka ini minatnya ke tengah kota, bukan pinggir kota. Karena itulah bagi mereka opsi menyewa pun tidak masalah, asalkan di tengah kota,” jelasnya.

Potensi milenial di pasar Jawa Timur, khususnya di Surabaya, ditangkap oleh perusahaan rintisan digital yang khusus bergerak di bidang peer to peer lending untuk properti Gradana sebagai peluang masa depan.

Menurut co-founder Gradana Angela Oetama, platform-nya memiliki solusi terhadap permasalahan milenial yang ingin memiliki / menyewa hunian di pusat kota tanpa harus mengumpulkan biaya yang besar di awal.

“Kita sangat paham market behavior segmen ini yang ingin kepraktisan. Mereka tidak mau membuang waktu di jalan untuk mengakses tempat kerja. Memilih lokasi tempat tinggal di pusat kota adalah solusinya, sementara biaya membeli properti adalah tantangannya dan apabila harus membayar sewa tahunan di muka pun cukup berat bagi mereka,” jelasnya.

Angela menuturkan, menyewa adalah opsi alternatif untuk bisa mendapatkan lokasi hunian di tengah kota. Apalagi, tambahnya, Surabaya merupakan kota metropolitan yang tingkat kemacetannya cukup tinggi. Berdasarkan laporan Asia Development Bank (ADB) tahun 2019 tentang Update: Fostering Growth and Inclusion in Asia’s Cities, Surabaya menempati urutan ke-20 sebagai kota termacet di Asia.

“Wajar jika anak-anak muda usia produktif di Surabaya pun mulai mengadopsi kebiasaan seperti di Jakarta yang lebih memilih sewa properti di pusat kota daripada membeli rumah dan apartemen di pinggir kota,” kata Angela.

Fitur GraSewa dari startup yang baru-baru ini menjuarai ajang kompetisi AETP dari pemerintah Swiss tersebut bisa menjadi solusi mereka yang ingin menyewa rumah di tengah kota Surabaya.

Penyewa tidak perlu membayar biaya sewa hingga satu tahun di muka, melainkan dapat dicicil per bulan. Pembayaran ruko untuk tempat usaha atau apartemen untuk tempat tinggal, dapat dijadikan variabel pengeluaran bulanan.

Calon penyewa juga dapat memilih sendiri dan menginformasikan kepada Gradana unit properti yang dikehendaki dan berlaku untuk ruko, rumah atau apartemen yang terletak di Surabaya.
(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.