Antisipasi Bencana, Industri Asuransi Harus Miliki Peta Resiko Bencana

Antisipasi Bencana, Industri Asuransi Harus Miliki Peta Resiko Bencana

Jakarta — Guna mengantisipasi risiko bencana gempa bumi dan tsunami yang sering terjadi di Indonesia, industri Asuransi dinilai harus dapat memiliki peta risiko setiap daerah rawan gempa Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono, pada acara acara seminar Infobank dengan tema “Peta Risiko Gempa Bumi dan Tsunami di Indonesia: Bagaimana Pengelolaan Gedung & Potensi Asuransi”. Rahmat menilai, peta risiko tersebut sangatlah penting guna terus meningkatkan perlindungan kepada para nasabah.

“Untuk bisnis asuransi seperti pada peristiwa Palu mulai ada premi terus. Karena kemungkinan gempa akan berulang terus di 20 tahun hingga 40 tahun kedepan,” kata Rahmat di Grand Sahid Hotel Jakarta, Kamis 14 Februari 2019.

Dirinya menambahkan, potensi gempa akan terus berulang hingga beberapa tahun kedepan. Tak hanya itu, potensi gempa dengan kekuatan magnitudo 9 juga masih akan terjadi pada tahun kedepan.

“Gempa manigtude 9 misalnya di Aceh akan terjadi lagi tahun kedepan bahkan semakin besar magnitudonya . Dalam hal ini asuransi harus punya data ini. Data kapan gempa dan kapan akan terjadi lagi,” tambah Rahmat.

Rahmat menyebut, hingga tahun 2018 saja telah terdapat 350 gempa dengan kekuatan diatas 5 magnitudo. Dari angka tersebut, tercatat terdapat 22 gempa besar yang telah merusak gedung dan bangunan secara signifikan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.